Kalahari Zebra has invited you to be his contact.

DeclineAccept
Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Perguruan Silat Di Palembang

ReviewReviewReviewReviewReviewSep 3, '08 1:40 AM
for everyone
Category:Other
Perguruan Pencak Silat Jaya Praja Cidomas yang berdiri pada tahun 1991 di Palembang merupakan peleburan dari pencak silat Beksi/Bhesie dan TTKDH (Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir) dimana keduanya merupakan perpaduan dari Pak Wartoyo yang sekarang merupakan guru besar dari Perguruan Pencak Silat Jaya Praja Cidomas dan istri yang keduanya merupakan pesilat.

Dengan gerakan-gerakan yang khas Beksi dan perpaduan kuda-kuda rendah dari Cimande perguruan ini sudah terdaftar di IPSI pada tahun 1996 dengan sekretariat di SD 244 Sungki, adapun jadwal latihan mereka adalah Minggu pagi, malam Kamis dan malam Sabtu dengan peserta latihan +/- 100 orang.

Seiring dengan perkembangan nya silat ini mulai membuka beberapa cabang seperti di SMK 1 (STM 1), SMK Bina Jaya dan SMP Ikhlasia. dengan metode pembinaan mental dan spiritual dalam perguruan ini memiliki beberapa tingkatan dan tiap tingkatan di uji setiap 6 bulan sekali.

Contak Person : Ahmad Zaini - Ketua Perguruan
Nikson - Waka Perguruan (Pelatih)
0819-29392923


ReviewReviewReviewReviewReviewSep 2, '08 1:49 AM
for everyone
Category:Other
Merak Panca Warna merupakan salah satu aliran silat yang memperkaya khasana silat terutama yang ada di Palembang, awalnya silat ini di perkenalkan oleh K.H Yusuf Umar yang juga merupakan imam masjid Agung SMB II, sehingga awal mulanya pencak silat ini latihan di halaman masjid agung SMB II tetapi berpindah semenjak masjid Agung SMB II di renovasi.

Aliran dari pencak silat Merak Panca Warna ini juga merupakan perbauran antara silat yang ada di Palembang (Indonesia) dengan beladiri dari Arab karena beliau pernah di Arab untuk belajar ilmu agama.

Sekarang ini murid beliau bernama Bpk Mursal yang meneruskan pelestarian dan pendidikan untuk pencak silat Merak Panca Warna ini dan saat ini memiliki sekretariat dan tempat latihan di Jl KI Wahid Hasyim Lr Mutiara I pada malam Rabu dan Malam Minggu.

Ada beberapa tingkatan yang diterapkan di pencak silat dari dasar sampai ke tingkatan merak, dengan jurus khas tangan mengepak seperti sayap burung di sertai keindahan gerak.

Contac person : Bpk Antoni (Pelatih)
0819 29389528


ReviewReviewReviewReviewReviewSep 1, '08 12:17 AM
for everyone
Category:Other
Perguruan silat yang merupakan salah satu silat aliran Palembang asli ini memiliki guru besar yang bernama (Alm) M Zainuddin M Zen di mana beliau yang untuk pertama kali memperkenalkan silat naga mas ini, pada awal mulanya pencak silat Naga Mas ini tertutup hanya untuk kalangan keluarga (Silat Keluarga) tetapi semenjak di wariskan/ diturunkan ke Bpk Kgs AK Zailai atau sering di panggil Mang Lan maka pada tahun 1976 beliau yang sekarang memimpin perguruan ini mendaftarkan perguruan tersebut didalam IPSI.

Awal mulanya pembelajaran di lakukan pada sore hari sekitar pukul 16.00 s/d 18.00 karena Alm M Zainuddin M Zen merupakan paman dari Bpk AK Zailani ini.

Dengan lapangan yang tidak begitu luas sekretariat terletak di JL Sayangan Lr Ketandan 17 ilir di mana ada sekitar 100 murid yang beliau bina saat ini, dengan cabang-cabang dan ranting yang tersebar di daerah mata mera pusri, Sekip, Prumnas dan beberapa tempat lainnya.

Dengan dasar seni dan pembinaan tidak heran kalau perguran silat yang satu ini sering di panggil untuk event-event daerah dan nasional dan sudah beberapa kali masuk dalam siaran Televisi. Untuk pembinaan prestasi Perguruan ini sudah beberapa kali menelorkan atlit dan yang baru-baru ini adalah Netti Mandasari yang ikut berlaga di PON beberapa waktu yang lalu.

Dengan seragam hitam-hitam khas pesilat mereka melakukan latihan pada Malam Sabtu dan malam Rabu.

Contang Person : Bapak AK Zailani 0852-67081869
Sekretariat : Jl Sayangan Lr Ketandan 17 Ilir Depan Pasar Buah Temenggung Palembang.


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 4:20 AM
for everyone
Category:Other
yang merupakan pencak silat asli dari Palembang ini termasuk perguruan yang sudah lama berdiri, sebelum banyak pencak silat dari Jawa yang masuk ke Palembang dulu banyak masyarakat yang mengguanakan pencak ini untuk beladiri ataupun sekedar pergaan seni saat acara pernikahaan atau acara besar lainnya.

Silat yang memiliki sekretariat di Jl Dr M Isa Lr KI AA kuto batu, berlatih pada malam hari yaitu pada Senin malam, Kamis Malam dan Jumat Malam.

Dengan jumlah anggota di sekretariat +/- 100 orang perguruan ini sering tampil untuk mengisi acara-acara baik secara individu ataupun resmi pemerintahaan, dengan seragam khas pesilat hitam-hitam membuat perguruan ini juga sering mengisi acara-acara adat di Palembang.

Selain di sekretariat ada beberapa cabang yang telah di buka oleh Pencak Silat Bunga Rampai ini yaitu di daerah 1 Ulu, Makrayu dan beberapa tempat lainnya.

Dalam pembinaan sama seperti pencak silat lainnya ujian kenaikan tingkat di lakukan 6 bulan 1 x.

Information By : Erwin
Pelatih : Zaenal Nafiz 0711-7793084.


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 4:14 AM
for everyone
Category:Other
Perguruan Seni bela diri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah berdiri tanggal 31 Juli 1963 di kampung Kauman, Yogyakarta. Keilmuannya terdiri dari pembinaan ragawi dan non-ragawi, termasuk Al Islam/Ke-Muhammadiyah-an. Motto dari Tapak Suci adalah "Dengan Iman dan Akhlaq saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlaq saya menjadi lemah".

Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah berkedudukan di Jl. Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Dalam Persyarikatan Muhammadiyah, TAPAK SUCI terdaftar sebagai organisasi otonom yang ke-11. Terdapat tiga kategori tingkatan:

Siswa - Sabuk Kuning, Kader (Pelatih) - Sabuk Biru , Pendekar - Sabuk Hitam

Jenjang SISWA

Siswa Dasar , Siswa Satu , Siswa Dua , Siswa Tiga , Siswa Empat

Jenjang KADER

Kader Dasar , Kader Muda , Kader Madya , Kader Kepala , Kader Utama

Jenjang PENDEKAR

Pendekar Muda, PMa, Pendekar Madya, PMdy , Pendekar Kepala, PKa , Pendekar Utama, PUa , Pendekar Besar, PBr

Terdapat 8 (delapan) jurus di dalam Perguruan Pencak Silat Tapak Suci yang dia ambil dari nama flora dan fauna , yaitu: Jurus Katak , Jurus Mawar, Jurus Lembu , Jurus Merpati , Jurus Harimau , Jurus Ikan Terbang , Jurus Naga , Jurus Rajawali

Dengan sejata khas perguruan yaitu SEGU (Senjata Serba Guna) dan Senakar.

Seragam : warna merah strip kuning

Di Palembang Perguruan Pencak Silat Tapak Suci berkembang melalui induk organisasi muhammadiyah, seperti :

Di kampus Universitas Muhammadiyah Palembang Plaju, Muhammadiyah Balayuda Km 4.5, Muhammadiya Bukit Kecil Jl Merdeka, Muhammadiya Kertapati, Muhammadiya Plaju, Man 3 & IAIN Raden Fatah Km 3.5

Dan tempat lainnya

Dimana perguruan silat ini telah membuat harum nama Sumatera Selatan pada umumnya dan Palembang Pada Khususnya yaitu dengan atlitnya ABAS AKBAR yang telah mencapai prestasi mendunia.

Untuk Jadwal pelatihan biasanya mereka melakukan latihan pada pagi Minggu/sore dan pada malam-malam yang telah di tentukan jadwalnya.


Sumber : Dari lapangan

http://pptapaksuci.org/,
http://id.wikipedia.org/


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 4:10 AM
for everyone
Category:Other
KORAN TEMPO, Ahad, 21 Januari 2007, Halaman B7 BEKSI (H. Hasbullah)
Berbakti dengan Pukulan Besi
Sebuah pukulan meluncur deras ke arah mukanya, tapi lelaki itu dengan gesit memutar bahunya. Menghindar. Lalu giliran kepalan tangannya yang mendarat di wajah lawan. Cepat. Keras bak besi. Beksi emang ngandelin power dan kecepetan tangan, ujar H Basyir Bustomi, 38 tahun, dengan logat Betawi yang kental. Basyir adalah ketua perguruan silat Betawi, Beksi Haji Hasbullah. Ditahbiskannya nama sang guru ada ceritanya. dikisahkan, guru besar asal bela diri ini justru seorang keturunan Tionghoa bernama Lie Ceng Oek. Ia tinggal di Kampung Dadap, Tangerang. Lie memiliki seorang pegawai bernama Ki Marhali. Ketika itu, Marhali kerap melihat tuannya berlatih kungfu. Lantas ia mencoba gerakan-gerakan sang tuan. Lie, yang melihat Marhali memiliki bakat, lantas mengajarinya. Suatu waktu Marhali bertemu dengan H. Ghozali dari Petukangan, Jakarta Selatan. Ghozali, yang mendengar Marhali seorang ahli ilmu bela diri, lantas menjajalnya. Marhali menang. Ghozali dan keponakannya, H. Hasbullah, akhirnya belajar ilmu bela diri baru ini. Selain Hasbullah, Ghozali juga memiliki dua murid lainnya. Maka jadilah tiga perguruan Beksi yang ada sekarang dengan menasbihkan nama gurunya masing-masing: H. Hasbullah, Engkong Nur dan Engkong Simin. Kami masih sering bertemu dan bersilaturahmi. Terakhir kami mengadakan festival dan Beksi H. Hasbullah keluar sebagai juara, kata Basyir, sambil menunjuk piala bergilir di ruang tamu rumahnya. H. Hasbullah (1896-1989) mengembangkan ilmunya, terutama di Petukangan, Kebayoran Lama, Ulujami, dan Pondok Aren. Murid-muridnya lantas mengembangkannya hingga ke lima wilayah Jakarta. Beksi sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Cina, Bie Sie. Bie artinya pertahanan dan Sie artinya empat. Maknanya, pertahanan empat penjuru. Dalam lidah Betawi, akhirnya menjadi Beksi. Oleh Hasbullah, lantas diberi makna baru: Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan. Ciri khas Beksi adalah pukulan kepalan terbalik dengan sisi lengan dalam menghadap ke atas. Pukulan ini harus dilakukan dengan mengerahkan tenaga. Ketika menyerang, tulang buhul jari menjadi ujung pukulan. Jadi pukulan kite ada matanye, kata Basyir. Pukulan kepalan terbalik ini dibarengi dengan goleng atau gerak bahu untuk meningkatkan kekuatan pukulan. Selain tentu menambah jangkauan tangan, ujarnya. Selain itu, pukulan sikut menjadi ciri khas Beksi, lagi-lagi dengan landasan tenaga. Bertarung dengan jarak rapat, lawan dijamin babak belur. Siapa berani mencoba?

BEKSI : MAEN PUKULAN BETAWI

1. Asal Usul Beksi

Seni budaya beladiri yang oleh orang betawi disebut maen pukulan Beksi lahir dari kemampuan orang terpilih yang tiada hentinya melatih kepekaan inderawi, mengolah kelebihan atau kelenturan anatomi tubuh dan belajar sebanyak mungkin dari pertanda alam seperti riak sungai, hembusan angin, gerak dan laku macan, monyet, kelabang, belalang,dst (hal 19).

Menurut buku ini, asal usul beksi ada beberapa versi.

Versi pertama. Versi ini dikisahkan oleh seorang sesepuh Beksi: H Atang Lenong (usia 84 tahun –ketika wawancara tahun 2001). Beksi mulai muncul ke permukaan dalam kurun pertengahan abad 19 sekitar tahun 1850-1860-an. Pada masa ini ada seorang tuan tanah di daerah tangerang bernama Gow Hok Boen yang tinggal di kampung kosambi. Tuan tanah ini kebetulan gemar akan beladiri dan menguasai ilmu kuntao atau kungfu. Orang local tangerang mengenal Gow Hok Boen sebagai Tuan tanah kedaung. Sebagai tuan tanah, Tuan Gow punya sekian banyak centeng untuk membantunya. Kepala centengnya bernama Ki Kenong yang memiliki ilmu beladiri yang tinggi dan dicampur dengan ulmu sihir yang dahsyat. Tertarik dengan beladiri, Tuan tanah ini mengadakan sayembara untuk mencari jagoan yang lebih hebat dari kepala centengnya dan mendapat kedudukan menggantikan jabatan sebagai kepala centeng. Maka setiap malam minggu diadakan pibu alias duel dengan banyak jagoan yang mau mengadu ilmu dan keberuntungan dengan melawan Ki Kenong. Namun dari sekian banyak penantangnya belum ada satunpun yang berhasil mengalahkan Ki Kenong. Tersebutlah ada seorang tukang singkong rebus (disebut ancemon atau singkong urap) bernama Pak Jidan yang setiap malam menjual singkong di tengah keramaian pertunjukan duel ini. Pak Jidan mengambil singkong dari hutan dekat tempat tinggalnya dan singkong tersebut tidak habis-habis dan seperti ada yang memelihara, namun karena di hutan Pak Jidan tidak ambil pusing. Suatu sore, ketika pak Jidan beristirahat di rumahnya dia didatangi oleh soerang pemuda yang protes karena singkong yang dia tanam dan pelihara di hutan diambil oleh pak jidan. Karena tidak tahu pak Jidan pun minta maaf. Melihat keluguan dan kekjujuran pak Jidan serta hidupnya yang miskin, orang misterius itu menawarkan untuk membantu pak Jidan dengan memberi pelajaran maen pukulan, tidak peduli waktu itu pak jidan sudah berumur sekitar 60-an. Singkat kata, Pak jidan menerima pelajaran maen pukulan sebanyak 8 jurus dan tiga atau empat lagi belum diajarkan, yang akan diajarkan oleh orang lain. Sebelum pergi orang misterius itu minta kemenyan dan berpesan bahwa dia bisa dipanggil jika pak jidan memerlukan dengan membakar kemenyan dan membaca mantra. Ketika orang itu epergi, Pak Jidan melihat ekor macan tersembul dari balik jubahnya danjuga tengkuknya terlihat loreng-loreng seperti layaknya kulit harimau. Pak jidan pun terkejut dan maklum bahwa dia dikunjungi dan diajari maen pukulan oleh Ki Belang atau Siluman Macan Putih. Malam selanjutnya, pak Jidan berjualan seperti bias adi tengah pentas duel. Disebabkan karena jengkel dengan jagoan-jagoan yang tidak bayar sewaktu makan singkong daganganya, PaK Jidan menedang keranjang dagangannya dan melayang masuk ke tengah gelanggang. Tuan tanah Gow pun marah dan menyuruh orang menyeret Pak Jidan e tengah arena dan memaksanya bertarung dengan Ki Kenong. Di luar dugaan, Pak Jidan mampu mengalahkan di Kenong dengan ilmu yang diajarkan oleh Ki Belang itu. Menurut legenda, dengan jurus baroneng Pak Jidan melumpuhkan ilmu Ki Kenong yang terkenal dengan ‘pukulan tangan berapi’. Ketika ditanya oleh Tuan Gow tentang ilmu yang dipakai oleh Pak Jidan, dia tidak tahu apa namanya. Lalu tuan Gow Hok Boen menyebutnya Beksi artinya pertahanan empat mata angin. Sejak itu terkenallah Pak Jidan—yang diangkat sebagai kepala pengawal keamanan-- dengan ilmu beksinya.
Versi kedua diceritakan oleh H Mahtun (lahir di petukangan 1945). Alkisah di kampung bagian timur tangerang hiduplah seorang laki-laki yang mahir beladiri bernama Raja Bulu berusia sekitar 63 tahun yang hidup berdua dengan anaknya yang gagu (bisu), istrinya sudah meninggal dunia. Kehidupan Raja Bulu berkecukupan dengan pekerjaan mengajar silat dari kampong ke kampong. Si anak sendiri tidak mau belajar silat pada bapaknya. Suatu ketika Raja bulu bertanya pada anaknya mengapa dia tidak mau belajar maen pukulan. Dan jawabannya sungguh mengejutkan: karena di anak belum tentu kalah dalam sambut-pukul dengan Raja Bulu. Si ayah lalu mengetes dan terjadilah pertarungan dan menjadi keteter atau kewalahan menghadapi ilmu anak bisu. Akhirnya si anak mengaku bawah selama ini dia belajar maen pukulan di hutan dan dilatih oleh siluman mcan putih. Karena belum ada nama, Raja bulu menyebut ilmu yang dikuasai oleh anaknya : Beksi: sebab seperti segi empat dengan empat arah . Sejak itu Raja Bulu pun belajar pada anaknya dan ilmu ini pun diajarkan ke murid-muridnya.demikian beksi pun berkembang.

Dalam perkembangan selanjutnya para pendekar Beksi memberi banyak makna pada ilmu maenpukulan ini. Ada yang menartikannya BEKSI= Bserbaktilah Engkau pada Sesama Insan ....

Asal usul di atas merupakan folklore, ceira rakyat berisi legenda yang didalamnya terdapat kenyataan dan juga legenda.

2. Tokoh-tokoh Beksi

Hampir semua aliran beksi mengakui bahwa yang mengajarkan pertama-tama ilmu beksi adalah Ki Kidan ( Ki Iban) dan atau Raja Bulu.


Lebih lanjut inilah para tokohnya berdasarkan generasi:

Generasi I : Raja Bulu dan Ki Jidan (Ki Iban)
Generasi II : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Ji’ah
Generasi III :Kong Marhali, Nyi Mas Melati, Kong Godjalih
Generasi IV : Kong H Hsabullah, Kong HM Nur, Kong Simin, Minggu, Salam Kalut, H Mansyur, Muhammad Bopeng
Generasi V : Tonganih, Dimroh, HM Yusuf, HM Nuh, Sidik, H Namat, H Syahro, Mandor Simin, Umar
Generasi VI :H Machtum, Tong tirih, H Dani, Udin Sakor, Soleh, Tholib/syaiful, dll
Generasi VII : Abdul Aziz, Abdul Malik, HA Yani, Mftah, Nasrullah, dll

Ki Iban/Raja Bulu memiliki murid yaitu : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Ji’ah
Yang belajar pada atau menjadi murid dari Ki Ceng Ok yaitu : Kong Godjalih, Kong Marhali. Sedangkan Nyimas Melati berguru pada Ki Dalang Ji’ah.
Para murud dari Ki Ceng Ok terus menerus menyebarkan Beksi hingg ke Jakarta dan tempat lain. Mereka dikenal denga sebutan Beksi empat serangkai yakni : Kong Jali, Kong Has, Kong Nur dan Kong Simin.

3. Jurus-jurus dan belajar Beksi

Jurus-jurus Beksi terkenal dengan keras, cepat, ringkas danemngarah pada tempat-temapt yang mematikan pada tubuh. Sebelum mempelajari jurus, murid biasanya mengikuti syarat penerimaan siswa yang disebut rosulan atau ngerosul; berupa tawasul disertai zikir tahlil memanjatkan doa Pada Allah agar dalam mempelajari beksi diberi keridlaan, kekuatan, ketabahan dan kesabaran.
Dalam permaian jurus, ada banyak melakukan gedi (hentakan kaki ke lantai) dan gerakan tangan yang sangat cepat. Oleh sebab itu dianjrukan untuk melotot dan tidak berkedip dalam melihat gerak lawan.

Cara belajar –mengajar beksi :
Diperkenalkan jurus. Murid menirukan disebut juga : asal tau jalan
Tuntun. Latihan gerak bela yang dituntun oleh guru dengan teknik dan aplikasi jurus
Sambut. Murid tanding dengansesama murid atau guru dengan menggunakan jurus.

Secara fundamental ada 12 jurus dalam beksi dibeberapa tempat disebut dengan nama yang berbeda.


Berikut nama-nama jurus beksi berdasarkan wilayahnya:

DAERAH I
Jurus Beksi
Jurus Gedig
Jurus Tancep
Jurus Cauk
Jurus Broneng
Jurus Bandut
Jurus Beksi Satu
Jurus Silem
Jurus lokbe
Jurus Bolang Baling
Jurus Janda Berias
Jurus Panca Lima

DAERAH I I
1. Jurus Beksi
2. Jurus Gedig
3. Jurus Tancep
4. Jurus Ganden
5. Jurus Bandut/bandul
6. Jurus Broneng
7. Jurus Tingkes
8. Jurus Rusia Pecah Tiga
9. Jurus Bolang Baling
10. Jurus Gebal
11. Jurus Kebut
12. Jurus Petir

DAERAH III
Jurus Beksi
.Jurus Gedig
.Jurus Tancep
.Jurus Ganden
.Jurus Bandut/bandul
.Jurus Broneng
.Jurus Tingkes
.Jurus timpug
.Jurus Kebut
.Jurus Tiga
.Jurus Galang Tiga
.Jurus Galang Lima



DAERAH IV
Jurus Beksi
.Jurus Gedig
.Jurus Tancep
.Jurus Ganden
.Jurus Kebut
.Jurus Broneng
.Jurus Beksi Satu
.Jurus Ganden Susun
.Jurus Tingkes
.Jurus Silem
Jurus Timpug
Jurus Tunjang/Petir

Pelajaran senjata juga diberikan yaitu ilmu golok yang terdiri dari dua jurus yaitu jurus golok satu dan dua. Jurus golok satu dipecah lagi jadi jurus satu hingga jurus tujuh. Sedangkan jurus golok dua dipecah menjadi 2 jurus yaitu jurus satu dan dua.
Kombinasi jurus baik tangan kosong maupun golok sangat sanagt penting dalam beksi sehingga bisa bercipata berbagai jurus lagi misalnya : Jurus bandut tepuok, jurus bandut galang, dll.

“ Lu jual gue beli”
“Lu jangan amen pukul aje, maen hakin sendiri. Pakelah ilmu padi, mangkin berisi mangkin merunduk” (Jakarta 15 Juni, 2005, IS)

Di Palembang sendiri perkembangan pencak silat beksi ini sangat lambat di karenakan kendala perekonomian dan juga minat untuk mempelajari silat ini juga sudah sangat kurang, pada awal mulanya pencak ini berlatih di halaman Masjid Agung SMB II, tetapi sejak renovasi Silat beksi berlatih di kawasan 19 ilir, di Lr Kapuran selain itu ada juga yang membuka di daerah Bukit Besar dan Rumah Susun.

bahkan banyak juga murid dari Abah Cenung yang melakukan kolaborasi dengan beberapa teknik dan membuka perguruan baru seperti perguruan Belibis Putih dan JayaPraja Cidomas.

Dengan gaya khas Betawi dan pukulan yang menggunakan arah bawah, Beksi di Palembang berlatih setiap malam Selasa dan malam Minggu, tetapi sekarang sudah sedikit sekali.

Contac person : Hariyanto SH - 0813-67398120

ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 4:01 AM
for everyone
Category:Other
SEJARAH PERISAI DIRI

Pak Dirdjo (panggilan akrab RM Soebandiman Dirdjoatmodjo) lahir di Yogyakarta pada hari Selasa Legi tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Pakoe Alam. Beliau adalah putra pertama dari RM Pakoesoedirdjo, buyut dari Pakoe Alam II. Sejak berusia 9 tahun beliau telah dapat menguasai ilmu pencak silat yang ada di lingkungan keraton sehingga mendapat kepercayaan untuk melatih teman-temannya di lingkungan daerah Pakoe Alaman. Di samping pencak silat beliau juga belajar menari di Istana Pakoe Alam sehingga berteman dengan Saudara Wasi dan Bagong Kusudiardjo.

Karena ingin meningkatkan kemampuan ilmu silatnya, pada tahun 1930 setamat HIK (Hollands Inlandsche Kweekchool) atau sekolah menengah pendidikan guru setingkat SMP, beliau meninggalkan Yogyakarta untuk merantau tanpa membawa bekal apapun dengan berjalan kaki. Tempat yang dikunjunginya pertama adalah Jombang, Jawa Timur. Di sana beliau belajar silat pada Bapak Hasan Basri, sedangkan pengetahuan agama diperoleh dari Pondok Pesantren Tebuireng.

Setelah menjalani gemblengan keras dengan lancar dan dirasa cukup, beliau kembali ke barat. Sampai di Solo beliau belajar pada Bapak Sayid Sahab. Beliau juga belajar kanuragan pada kakeknya, Jogosurasmo. Tujuan berikutnya adalah Semarang, di sini beliau belajar pada Bapak Soegito dari aliran Setia Saudara. Dilanjutkan dengan mempelajari ilmu kanuragan di Pondok Randu Gunting Semarang.

Dari sana beliau menuju Cirebon setelah singgah terlebih dahulu di Kuningan. Di sini beliau belajar lagi ilmu silat dan kanuragan dengan tidak bosan-bosannya selalu menimba ilmu dari berbagai guru. Selain itu beliau juga belajar silat Minangkabau dan silat Aceh.

Tekadnya untuk menggabungkan dan mengolah berbagai ilmu yang dipelajarinya membuat beliau tidak bosan-bosan menimba ilmu. Berpindah guru baginya berarti mempelajari hal yang baru dan menambah ilmu yang dirasakannya kurang.

Beliau yakin, bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari niat yang baik, maka Tuhan akan menuntun untuk mencapai cita-citanya. Beliau pun mulai meramu ilmu silat sendiri. Pak Dirdjo lalu menetap di Parakan, Banyumas, dan pada tahun 1936 membuka perkumpulan pencak silat dengan nama Eka Kalbu.

Setelah puas merantau, beliau kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ki Hajar Dewantoro yang masih Pakde-nya, meminta Pak Dirdjo melatih di lingkungan Perguruan Taman Siswa di Wirogunan.

Di tengah kesibukan melatih, beliau bertemu dengan seorang pendekar Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie (Shaolinshi), Yap Kie San namanya. Pak Dirdjo yang untuk menuntut suatu ilmu tidak memandang usia dan suku bangsa lalu mempelajari ilmu beladiri yang berasal dari biara Siauw Liem (Shaolin) ini dari Suhu Yap Kie San selama 14 tahun. Beliau diterima sebagai murid bukan dengan cara biasa tetapi melalui pertarungan persahabatan dengan murid Suhu Yap Kie San. Melihat bakat Pak Dirdjo, Suhu Yap Kie San tergerak hatinya untuk menerimanya sebagai murid. Berbagai cobaan dan gemblengan beliau jalani dengan tekun sampai akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari Suhu Yap Kie San.

Dengan bekal yang diperoleh selama merantau dan digabung dengan ilmu beladiri Siauw Liem Sie yang diterima dari Suhu Yap Kie San, Pak Dirdjo mulai merumuskan ilmu yang telah dikuasainya itu. Pada tahun 1947 di Yogyakarta, Pak Dirdjo diangkat menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Seksi Urusan Pencak Silat yang dikepalai oleh Bapak Mochammad Djoemali. Dengan tekad mengembangkan ilmunya, beliau lalu membuka kursus silat umum, selain mengajar di HPPSI dan Himpunan Siswa Budaya.

Tahun 1954 Pak Dirdjo diperbantukan ke Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. Tahun 1955 beliau resmi pindah dinas ke Kota Surabaya. Di sinilah, dengan dibantu oleh Bapak Imam Romelan, beliau membuka dan mendirikan kursus pencak silat Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI pada tanggal 2 Juli 1955.

Pengalaman yang diperoleh selama merantau dan ilmu silat Siauw Liem Sie yang dikuasainya kemudian dicurahkannya dalam bentuk teknik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia, tanpa ada unsur memperkosa gerak. Semuanya berjalan secara alami dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Dari mulai didirikan hingga kini teknik silat Perisai Diri tidak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Dengan motto Pandai Silat Tanpa Cedera, Perisai Diri diterima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri.

Tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang menghadap Sang Pencipta. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Untuk menghargai jasanya, pada tahun 1986 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pendekar Purna Utama bagi Bapak RM Soebandiman Dirdjoatmodjo.

TINGKATAN PESILAT PERISAI DIRI

Tingkatan pesilat Perisai Diri dibagi dalam beberapa tingkatan yang secara garis besar dikelompokkan dalam tingkat Dasar dan tingkat Keluarga. Tingkat Dasar terdiri dari Dasar I (sabuk putih), Dasar II (sabuk hitam) dan Calon Keluarga (sabuk merah). Tingkat Keluarga (sabuk merah) terdiri dari beberapa tingkatan yang ditandai dengan warna strip pada badge.

DASAR

Dasar I, 6 bulan, Sabuk Putih
Dasar II, 6 bulan, Sabuk Hitam
Calon Keluarga, 6 bulan, Sabuk Merah

KELUARGA

SENJATA & TEKNIK

Mulai tingkat dasar akan diajarkan teknik-teknik beladiri tangan kosong. Pada tingkat selanjutnya diajarkan juga teknik permainan senjata dengan senjata wajib pisau, pedang dan toya. Dengan dasar penguasaan tiga senjata wajib, pisau mewakili senjata pendek, pedang mewakili senjata sedang, dan toya mewakili senjata panjang, pesilat Perisai Diri dilatih untuk mampu mendayagunakan berbagai peralatan yang ada di sekitarnya untuk digunakan sebagai senjata. Teknik tersebut juga dapat digunakan untuk memainkan senjata lain, seperti celurit, trisula, abir, tombak, golok, ruyung, rotikalong, pedang samurai, pentungan, kipas, payung, senapan, bayonet, rantai, teken, dan sebagainya.

Metode praktis yang sangat penting untuk dipelajari oleh pesilat Perisai Diri adalah latihan "Serang Hindar". Pada latihan ini akan diajarkan cara menyerang dan menghindar yang paling efisien, cepat, tepat, tangkas, deras dan bijaksana. Sekalipun berhadapan langsung dengan lawan, kemungkinan cedera amat kecil karena setiap siswa dibekali prinsip-prinsip dasar dalam melakukan serangan dan hindaran. Resiko kecil pada metode Serang Hindar inilah yang melahirkan motto "Pandai Silat Tanpa Cedera". Dengan motto inilah Perisai Diri menyusun program pendidikan dengan memperhatikan faktor psikologis dan kurikulumnya.

Teknik silat Perisai Diri terdiri dari lima tahapan, yakni pengenalan, pengertian, penerapan, pendalaman dan penghayatan. Intisari ilmu silat yang dikembangkan Pak Dirdjo ini terdiri dari 19 teknik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anatomi tubuh manusia. Ke-19 teknik silat tersebut masing-masing mempunyai ciri khas dalam hal :

pengosongan, peringanan dan pemberatan tubuh
gerak merampas dan merusak
menangkis dan mengunci
cara menghindar dan mengelak
gerak melompat
cara menolak, menebang dan melempar
mendorong dan menebak
serangan tangan, kaki dan badan
pengaturan napas
penyaluran tenaga
pengaturan senjata
Dalam silat Perisai Diri terdapat Teknik Kombinasi dan Teknik Asli. Teknik Kombinasi merupakan teknik-teknik di silat Perisai Diri yang berasal dari perguruan-perguruan silat di seluruh Indonesia yang meliputi 156 aliran. Rangkuman teknik silat tersebut kemudian dipilah dan dikelompokkan sesuai dengan karakter dari masing-masing aliran. Teknik Kombinasi diantaranya adalah Cimande, Batawen, Bawean dan Jawa Timuran. Di samping itu ada juga Teknik Minangkabau yang diambil dari teknik pencak silat tanah Minang yang dilengkapi dengan beberapa teknik lain.

Teknik Asli dalam silat Perisai Diri sebagian besar diambil dari aliran Siauw Liem Sie. Dengan kreativitas Pak Dirdjo, yang mirip hanyalah sikap awalnya saja, sedangkan gerakan maupun implementasinya sudah dijiwai oleh karakter pencak silat Indonesia. Hal ini yang menjadikan ilmu silat Perisai Diri mempunyai sifat unik, tidak ada kemiripan dengan silat yang lain. Disebut Asli karena mempunyai frame tersendiri, bukan merupakan kombinasi dari beberapa aliran silat.

Teknik Asli dalam silat Perisai Diri :

Burung Mliwis , Burung Kuntul , Burung Garuda , Lingsang , Kuda Kuningan , Setria Hutan , Harimau , Naga , Setria , Pendeta , Putri.

Selain teknik silat, diajarkan pula teknik olah pernafasan yang berguna baik untuk kebugaran maupun untuk menunjang beladiri. Untuk menyeimbangkan gemblengan fisik, pesilat juga akan diberi gemblengan mental spiritual yang dalam Perisai Diri dikenal dengan istilah Kerokhanian yang diberikan secara bertahap untuk memberi pengertian dan pelajaran tentang diri pribadi dan manusia pada umumnya, sehingga diharapkan tercipta pesilat yang bermental baja dan berbudi luhur, mempunyai kepercayaan diri yang kuat, berperangai lemah lembut, serta bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Keseimbangan antara pengetahuan silat dan Kerokhanian akan menjadikan anggota Perisai Diri waspada dan mawas diri, tidak sombong, dan setiap saat sadar bahwa di atas segala-galanya ada Sang Pencipta.

LAMBANG PERISAI DIRI

Manusia menunduk dengan tangan menyusun sikap Bunga Sepasang, di atas bunga teratai yang berdaun lima berwarna kuning, di bawahnya didasari dengan sayap putih dengan tulisan PERISAI DIRI, di dalam suatu bangun segitiga berwarna merah bertepikan warna kuning.

Manusia menunduk bersikap Bunga Sepasang, mempunyai makna bahwa Kelatnas Indonesia Perisai Diri bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan penuh rasa tanggung jawab melaksanakan azas dan tujuan Kelatnas Indonesia Perisai Diri.
Bunga teratai berdaun lima berwarna kuning, mempunyai makna bahwa dalam melaksanakan tujuan Kelatnas Indonesia Perisai Diri berazaskan Pancasila.
Sayap warna putih bertuliskan PERISAI DIRI, mempunyai makna bahwa Kelatnas Indonesia Perisai Diri mempunyai sikah hidup yang dinamis, selalu mempunyai tekad dan semangat untuk mengembangkan bela diri Indonesia umumnya dan Silat Perisai Diri khususnya serta memelihara kelestariannya sebagai budaya bangsa.
Bangun segi tiga berwarna merah bertepikan warna kuning, mempunyai makna :
Tujuan luhur / roh suci
Hidup / sukma
Kekuatan / bayu
Warna merah putih, mempunyai makna asal dan perantaraan ayah dan ibu.
Untuk penggunaan lambang dan atribut lain di sesuaikan dengan Pasal 15 Anggaran Dasar :

Kelatnas Indonesia Perisai Diri mempunyai lambang, panji-panji dan pakaian seragam dengan bentuk serta makna sebagaimana diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 41 Anggaran Rumah Tangga :

Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri mempunyai lambang yang bernama "Bunga Sepasang".
Arti, ukuran, bentuk dan warna lambang terlampir di dalam Anggaran Rumah Tangga ini.
Penggunaan panji-panji dan atribut-atribut lain yang memakai lambang Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri ditentukan dalam peraturan tersendiri.
LOKASI & JADWAL LATIHAN DI PALEMBANG

Cabang Palembang
Minggu 07.30 Halaman kantor satpam Pintu Gerbang I PT Pusri, Jl. Mayor Zen, Palembang
Sugeng Hariadi +62 813 73483618

Unit PT Pupuk Sriwidjaja
Selasa dan Jumat 15.30 Halaman kantor satpam Pintu Gerbang I PT Pusri,
Jl. Mayor Zen, Palembang
Ir. Benny Haryoso, MT +62 711 712111, 712222 ext.3609

Unit Pertamina UP.III Plaju
Minggu 16.00 Gedung Aneka Ria, Komp.Pertamina UP.III Plaju, Palembang
Beni David S, SE +62 815 3865389

Unit Politeknik Kesehatan Gigi
Senin dan Kamis 16.00 Lapangan Poltek Kesehatan Gigi,
Jl. Darmapala, Taman Siguntang, Palembang
drg. Nandang Koswara +62 711 413037

Unit CV Raihan
Kamis dan Minggu 20.00 Percetakan CV Raihan,
Jl. Aiptu KS Tubun (Lapangan Hatta), Palembang
Agung Maulana, SE +62 819 77832644

Unit Saka Bhayangkara Poltabes Palembang
Minggu 08.00 Lapangan Poltabes Palembang,
Jl. Gubernur HA Bastari, Palembang
Brigpol Edi Yanto +62 812 7362114

Ranting SMKN 3 Palembang
Jumat dan Sabtu 15.30 Lapangan tenis SMK Negeri 3 Palembang,
Jl. Srijaya Negara, Bukit Besar, Palembang
Juhartono, SE +62 813 67500314

Ranting SMP YKPP 1 Palembang
Minggu 08.00 SMP YKPP 1, Komp. Pertamina UP.III Plaju, Palembang
Beni David S, SE +62 815 3865389

Ranting SMPN 30 Palembang
Minggu 16.00 SMPN 30 Palembang, Plaju, Palembang
Dedi Armadi +62 813 73048407

Ranting SMPN 16 Palembang
Minggu 16.00 SMPN 16 Palembang, Plaju, Palembang
Dedi Armadi +62 813 73048407

Sumber :

Agus Winarno - http://bungasepasang.blogspot.com/


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:50 AM
for everyone
Category:Other
SEJARAH PSHT

RIWAYAT SINGKAT KI NGABEI AGENG SOERODIWIRDJO

Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo nama kecilnya adalah Muhamad Masdan, yang lahir pada tahun 1876 di Surabaya putra sulung Ki Ngabei Soeromihardjo (mantri cacar di ngimbang kab: jombang Ki ngabei Soeromihardjo adalah saudara sepupu RAA Soeronegoro (bupati Kediri pada saat itu). Ki Ageng soerodiwirdjo mempunyai garis keterunan batoro katong di Ponorogo, beliau kawin dengan ibu sarijati umur 29 tahun di surabaya dari perkawinan itu dianugrahi 3 anak laki-2 dan 2 anak perempuan namun semuanya meninggal dunia sewaktu masih kecil.

Pada usia 14 tahun (th 1890) beliau lulus SR sekarang SD kemudian diambil putra oleh pamanya (wedono di wonokromo) dan tahun 1891 yaitu tepat berusia 15 tahun ikut seorang kontrolir belanda di pekerjakan sebagai juru tulis tetapi harus magang dahulu (sekarang capeg). Pada usia yang relatif masih muda Ki Ageng Soerodiwirdjo mengaji di pondok pesantren tibu ireng jombang, dan disini lah beliau belajar pencak silat pada tahun 1892 pindah ke bandung tepatnya di parahyangan di daerah ini beliau berksempatan menambah kepandaian ilmu pencak silat. Ki Ageng Soerodiwirdjo adalah seorang yang berbakat, berkemauan keras dan dapat berfikir cepat serta dapat menghimpun bermacam-macam gerak langkah permainan. Pencak silat yang di ikuti antar lain:
Cimande, Cikalong, Cibaduyut, Ciampea, Sumedangan

Tahun 1893 beliau pindah ke jakarta, di kota betawi ini hanya satu tahun tetapi dapat mempergunakan waktunya untuk menambah pengetahuan dalam belajar pencak silat yaitu:
Betawian, Kwitangan, Monyetan, Toya

Pada tahun 1894 Ki Ageng Soerodiwirdjo pindah ke bengkulu karena pada saat itu orang yang di ikutinya (orang belanda) pindah kesana.di bengkulu permainanya sama dengan di jawa barat, enam bulan kemudian pindah ke padang. Di kedua daerah ini Ki Ageng Soerodiwirdjo juga memperdalam dan menambah pengetahuannya tentang dunia pencak silat. Permainan yang diperolehnya antara lain : minangkabau
Permainan padang Pariaman, Permainan padang Sidempoan, Permainan padang Panjang, Permainan padang Pesur / padang baru, Permainan padang sikante, Permainan padang alai, Permainan padang partaikan

Permainan yang di dapat dari bukit tinggi yakni :
Permainan Orang lawah, Permainan lintang, Permainan solok, Permainan singkarak, Permainan sipei, Permainan paya punggung, Permainan katak gadang, Permainan air bangis, Permainan tariakan

Dari daerah tersebut salah satu gurunya adalah Datuk Rajo Batuah. Beliau disamping mengajarkan ilmu kerohanian. Dimana ilmu kerohanian ini diberikan kepada murid-murid beliau di tingkat II.
Pada tahun 1898 beliau melanjutkan perantuanya ke banda aceh, di tempat ini Ki Ageng Soerodiwirdjo berguru kepada beberapa guru pencak silat, diantarnya :
* Tengku Achamd mulia Ibrahim
* Gusti kenongo mangga tengah
* Cik bedoyo

Dari sini diperoleh pelajaran – pelajaran, yakni:
Permainan aceh pantai, Permainan kucingan, Permainan bengai lancam, Permainan simpangan, Permainan turutung

Pada tahun 1902 Ki Ageng Soerodiwirdjo kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai anggota polisi dengan pangkat mayor polisi. Tahun 1903 di daerah tambak Gringsing untuk pertama kali Ki Ageng Soerodiwirdjo mendirikan perkumpulan mula-mula di beri nama ‘SEDULUR TUNGGAL KECER” dan permainan pencak silatnya bernama “ JOYO GENDELO” .

Pada tahun 1917 nama tersebut berubah, dan berdirilah pencak silat PERSAUDARAAN SETIA HATI, (SH) yang berpusat di madiun tujuan perkumpulan tersebut diantaranya, agar para anggota (warga) nya mempunyai rasa Persaudaraan dan kepribadian Nasional yang kuat karena pada saat itu Indonesia sedang di jajah oleh bangsa belanda. Ki Ageng Soerodiwirdjo wafat pada hari jum`at legi tanggal 10 nopember 1944 dan di makamkan di makam Winongo madiun dalam usia enam puluh delapan tahun (68).





GERAK LANGKAH PENDEKAR PILANGBANGAU - SEBUAH CATATAN SEJARAH PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE

Manusia dapat dihancurkan
Manusia dapat dimatikan
akan tetapi manusia tidak dapat dikalahkan
selama manusia itu setia pada hatinya
atau ber-SH pada dirinya sendiri

Falsafah Persaudaraan Setia Hati Terate itu ternyata sampai sekarang tetap bergaung dan berhasil melambungkan PSHT sebagai sebuah organisasi yang berpangkal pada "persaudaraan" yang kekal dan abadi.

Adalah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, lelaki kelahiran Madiun pada tahun 1890. Karena ketekunannya mengabdi pada gurunya, yakni Ki Ngabehi Soerodiwiryo, terakhir ia pun mendapatkan kasih berlebih dan berhasil menguasai hampir seluruh ilmu sang guru hingga ia berhak menyandang predikat pendekar tingkat III dalam tataran ilmu Setia Hati (SH). Itu terjadi di desa Winongo saat bangsa Belanda mencengkeramkan kuku jajahannya di Indonesia.

Sebagai seorang pendekar, Ki Hadjar Hardjo Oetomo pun berkeinginan luhur untuk mendarmakan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Untuk kebaikan sesama. Untuk keselamatan sesama. Untuk keselamatan dunia. Tapi jalan yang dirintis ternyata tidak semulus harapannya. Jalan itu berkelok penuh dengan aral rintangan. Terlebih saat itu jaman penjajahan. Ya, sampai Ki Hadjar sendiri terpaksa harus magang menjadi guru pada sekolah dasar di benteng Madiun, sesuai beliau menamatkan bangku sekolahnya. Tidak betah menjadi guru, Ki Hadjar beralih profesi sebagai Leerling Reambate di SS (PJKA/Kereta Api Indonesia saat ini - red) Bondowoso, Panarukan, dan Tapen.

Memasuki tahun 1906 terdorong oleh semangat pemberontakannya terhadap Negara Belanda - karena atasan beliau saat itu banyak yang asli Belanda -, Ki Hadjar keluar lagi dan melamar jadi mantri di pasar Spoor Madiun. Empat bulan berikutnya ia ditempatkan di Mlilir dan berhasil diangkat menjadi Ajund Opsioner pasar Mlilir, Dolopo, Uteran dan Pagotan.

Tapi lagi-lagi Ki Hadjar didera oleh semangat berontakannya. Menginjak tahun 1916 ia beralih profesi lagi dan bekerja di Pabrik gula Rejo Agung Madiun. Disinipun Ki Hadjar hanya betah untuk sementara waktu. Tahun 1917 ia keluar lagi dan bekerja di rumah gadai, hingga beliau bertemu dengan seorang tetua dari Tuban yang kemudian memberi pekerjaan kepadanya di stasion Madiun sebagai pekerja harian.

Dalam catatan acak yang berhasil dihimpun, di tempat barunya ini Ki Hadjar berhasil mendirikan perkumpulan "Harta Jaya" semacam perkumpulan koperasi guna melindungi kaumnya dari tindasan lintah darat. Tidak lama kemudian ketika VSTP (Persatuan Pegawai Kereta Api) lahir, nasib membawanya ke arah keberuntungan dan beliau diangkat menjadi Hoof Komisaris Madiun.

Senada dengan kedudukan yang disandangnya, kehidupannya pun bertambah membaik. Waktunya tidak sesempit seperti dulu-dulu lagi, saat beliau belum mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Dalam kesenggangan waktu yang dimiliki, Ki Hadjar berusaha menambah ilmunya dan nyantrik pada Ki Ngabehi Soerodiwiryo.

Data yang cukup bisa dipertanggungjawabkan menyebutkan dalam tahun-tahun inilah Setia Hati (SH) mulai disebut-sebut untuk mengganti nama dari sebuah perkumpulan silat yang semula bernama "Djojo Gendilo Cipto Mulyo".

Masuk Sarikat Islam.

Memasuki tahun 1922, jiwa pemberontakan Ki Hadjar membara lagi dan beliau bergabung dengan Sarikat Islam (SI), untuk bersama-sama mengusir negara penjajah, malah beliau sendiri sempat ditunjuk sebagai pengurus. Sedangkan di waktu senggang, ia tetap mendarmakan ilmunya dan berhasil mendirikan perguruan silat yang diberi nama SH Pencak Spor Club. Tepatnya di desa Pilangbangau - Kodya Madiun Jawa Timur, kendati tidak berjalan lama karena tercium Belanda dan dibubarkan.

Namun demikian semangat Ki Hadjar bukannya nglokro (melemah), tapi malah semakin berkobar-kobar. Kebenciannya kepada negara penjajah kian hari kian bertambah. Tipu muslihatpun dijalankan. Untuk mengelabuhi Belanda, SH Pencak Sport Club yang dibubarkan Belanda, diam-diam dirintis kembali dengan siasat menghilangkan kata "Pencak" hingga tinggal "SH Sport Club". Rupanya nasib baik berpihak kepada Ki Hadjar. Muslihat yang dijalankan berhasil, terbukti Belanda membiarkan kegiatannya itu berjalan sampai beliau berhasil melahirkan murid pertamanya yakni, Idris dari Dandang Jati Loceret Nganjuk, lalu Mujini, Jayapana dan masih banyak lagi yang tersebar sampai Kertosono, Jombang, Ngantang, Lamongan, Solo dan Yogyakarta.

Ditangkap Belanda.

Demikianlah, hingga bertambah hari, bulan dan tahun, murid-murid Ki Hadjar pun kian bertambah. Kesempatan ini digunakan oleh Ki Hadjar guna memperkokoh perlawanannya dalam menentang penjajah Belanda. Sayang, pada tahun 1925 Belanda mencium jejaknya dan Ki Hadjar Hardjo Oetomo ditangkap lalu dimasukkan dalam penjara Madiun.

Pupuskah semangat beliau ? Ternyata tidak. Bahkan semakin menggelegak. Dengan diam-diam beliau berusaha membujuk rekan senasib yang ditahan di penjara untuk mengadakan pemberontakan lagi. Sayangnya sebelum berhasil, lagi-lagi Belanda mencium gelagatnya. Untuk tindakan pengamanan, Ki Hadjar pun dipindah ke penjara Cipinang dan seterusnya dipindah di penjara Padang Panjang Sumatera. Ki Hadjar baru bisa menghirup udara kebebasan setelah lima tahun mendekam di penjara dan kembali lagi ke kampung halamannya, yakni Pilangbangau, Madiun.

Selang beberapa bulan, setelah beliau menghirup udara kebebasan dan kembali ke kampung halaman, kegiatan yang sempat macet, mulai digalakan lagi. Dengan tertatih beliau terus memacu semangat dan mengembangkan sayapnya. Memasuki tahun 1942 bertepatan dengan datangnya Jepang ke Indonesia SH Pemuda Sport Club diganti nama menjadi "SH Terate". Konon nama ini diambil setelah Ki Hadjar mempertimbangkan inisiatif dari salah seorang muridnya Soeratno Soerengpati. Beliau merupakan salah seorang tokoh Indonesia Muda.

Selang enam tahun kemudian yaitu tahun 1948 SH Terate mulai berkembang merambah ke segenap penjuru. Ajaran SH Terate pun mulai dikenal oleh masyarakat luas. Dan jaman kesengsaraanpun sudah berganti. Proklamasi kemerdekaan RI yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta dalam tempo singkat telah membawa perubahan besar dalam segala aspek kehidupan. Termasuk juga didalamnya, kebebasan untuk bertindak dan berpendapat. Atas prakarsa Soetomo Mangku Negoro, Darsono, serta saudara seperguruan lainnya diadakan konferensi di Pilangbangau (di rumah Alm Ki Hadjar Hardjo Oetomo). Dari konferensi itu lahirlah ide-ide yang cukup bagus, yakni SH Terate yang semenjak berdirinya berstatus "Perguruan Pencak Silat" dirubah menjadi organisasi "Persaudaraan Setia Hati Terate". Selanjutnya Soetomo Mangkudjajo diangkat menjadi ketuanya dan Darsono menjadi wakil ketua.

Tahun 1950, karena Soetomo Mangkudjojo pindah ke Surabaya, maka ketuanya diambil alih oleh Irsad. Pada tahun ini pula Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah seorang tokoh pendiri PSHT, mendapatkan pengakuan dari pemerintah Pusat dan ditetapkan sebagai "Pahlawan Perintis Kemerdekaan" atas jasa-jasa beliau dalam perjuangan menentang penjajah Belanda.





Profil Persaudaraan Setia Hati Terate
Jiwa patriotisme yang tinggi ditunjukkan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo, salah seorang Saudara Tertua Setia Hati, dengan bantuan teman-temannya dari Pilang Bango, Madiun dengan berani menghadang kereta api yang lewat membawa tentara Belanda atau mengangkut perbekalan militer. Penghadangan, pelemparan, dan perusakkan yang terjadi berulang-ulang sampai akhirnya ia ditangkap PID Belanda dan mendapat hukuman kurungan di penjara Cipinang dan dipindahkan ke Padang, Sumatera Barat. Setelah dibebaskan, Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang telah mendirikan Setia Hati Pencak Sport Club yang kemudian mengaktifkan kembali perguruannya sampai akhirnya berkembang dengan nama Persaudaraan Setia Hati Terate.

Persaudaraan Setia Hati Terate dalam perkembangannya dibesarkan oleh RM Imam Koesoepangat murid dari Mohammad Irsyad kadhang (saudara) Setia Hati Pencak Sport Club (SH PSC) yang merupakan murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo.

Sebelum menjadi kadhang SH dan mendirikan SH PSC, Ki Hadjar Hardjo Oetomo magang sebagai guru di SD Banteng Madiun. Tidak betah menjadi guru, bekerja di Leerling Reambate di SS (PJKA) Bondowoso, Panarukan dan Tapen. Tahun 1906 keluar dari PJKA dan bekerja menjadi Mantri Pasar Spoor Madiun di Mlilir dengan jabatan terakhir sebagai Ajudan Opsioner Pasar Mlilir, Dolopo, Uberan dan Pagotan (wilayah selatan Madiun). Pada tahun 1916 bekerja di pabrik gula Redjo Agung Madiun. Tahun 1917 masuk menjadi saudara SH dan dikecer langsung oleh Ki Ngabei Soerodiwirjo, pendiri Persaudaran Setia Hati. Pada tahun ini bekerja di stasiun kereta api Madiun hingga menjabat Hoof Komisaris. Tahun 1922 bergabung dengan Sarekat Islam dan mendirikan Setia Hati Pencak Sport Club di Desa Pilangbango, Madiun, yang kemudian berkembang sampai ke daerah Nganjuk, Kertosono, Jombang, Ngantang, Lamongan, Solo, dan Yogyakarta.

Tahun 1925, ditangkap oleh Pemerintah Belanda dan dipenjara di Cipinang, kemudian dipindahkan ke Padang, Sumatra Barat selama 15 tahun. SH PSC dibubarkan Belanda karena terdapat nama "pencak". Setelah pulang dari masa tahanan mengaktifkan kembali SH PSC dan untuk menyesuaikan keadaan, kata "pencak" pada SH PSC menjadi "pemuda". Kata "pemuda" semata-mata hanya untuk mengelabui Belanda agar tidak dibubarkan. Bertahan sampai tahun 1942 bersamaan dengan datangnya Jepang ke Indonesia.

Tahun 1942, atas usul saudara SH PSC Soeratno Soerengpati tokoh pergerakan Indonesia Muda, nama SH Pemuda Sport Club diubah menjadi Setia Hati Terate. Pada waktu itu SH Terate bersifat perguruan tanpa organisasi.

Tahun 1948, atas prakarsa Soetomo Mengkoedjojo, Darsono,dan lain-lain mengadakan konferensi di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo di desa Pilangbango, Madiun. Hasil konferensi menetapkan Setia Hati Terate yang dulunya bersifat perguruan diubah menjadi organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dengan diketuai oleh Oetomo Mangkoewidjojo dengan wakilnya Darsono. Kemudian secara berturut-turut:

· Tahun 1950, Ketua Pusat oleh Mohammad Irsyad.
· Tahun 1974, Ketua Pusat oleh RM Imam Koesoepangat.
· Tahun 1977-1984, Ketua Dewan Pusat oleh RM Imam Koesoepangat dan Ketua Umum Pusat oleh Badini.
· Tahun 1985, Ketua Dewan Pusat oleh RM Imam Koesoepangat dan Ketua Umum Pusat oleh Tarmadji Boedi Harsono.
· Tahun 1988, Ketua Dewan Pusat RM Imam Koesoepangat meninggal dunia dan PSHT dipimpin oleh Ketua Umum Tarmadji Boedi Hardjono sampai sekarang.

Untuk menjadi saudara pada Persaudaraan Setia Hati "Terate" ini, sebelumnya seseorang itu terlebih dahulu harus mengikuti pencak silat dasar yang dimulai dari sabuk hitam, merah muda, hijau dan putih kecil. Pada tahap ini seseorang tersebut disebut sebagai siswa atau calon saudara.

Selama dalam proses latihan pencak silat, seorang pelatih/warga (saudara SH) juga memberikan pelajaran dasar ke-SH-an secara umum kepada para siswa.

Setelah menamatkan pencak silat dasar tersebut, seseorang yang dianggap sebagai warga atau saudara SH adalah apabila ia telah melakukan pengesahan yang dikecer oleh Dewan Pengesahan. Dewan pengesahan ini termasuk saudara SH yang "terbaik dari yang terbaik" yang dipilih melalui musyawarah saudara-saudara SH. Proses kecer tersebut berlangsung pada bulan Syura. Adapun sarat yang harus disediakan dalam pengeceran antara lain: Ayam jago, mori, pisang, sirih, dan lain sebagainya sarat-sarat yang telah ditentukan.

Dalam proses pengeceran ini, kandidat diberi pengisian dan gemblengan jasmani dan rohani dan ilmu ke-SH-an serta petuah-petuah, petunjuk-petunjuk secara mendalam dan luas. Saudara SH yang baru disahkan tersebut, dalam tingkatan ilmu disebut sebagai saudara tingkat I (erste trap). Pada Persaudaraan Setia Hati Terate juga dibagi dalam tiga jenis tingkatan saudara yaitu saudara SH Tingkat I (ester trap), Tingkat II (twede trap), tingkat III (derde trap).

Pada Persaudaraan Setia Hati Terate diajarkan 36 jurus pencak silat yang merupakan warisan dari Ki Ngabei Soerodiwirjo di erste trap serta pelajaran ilmu ke-SH-an yang dapat diperoleh pada tingkatan twede trap dan derde trap. Jurus-jurus tersebut merupakan ramuan dari beberapa aliran pencak silat yang berada di nusantara, di antaranya dari Jawa Barat, Betawi (Jakarta), dan Minangkabau.

Khadang SH Terate tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan di beberapa negara seperti Belanda, Perancis, Belgia, Jerman, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam. Secara administratif mulai dirintis pencatatan jumlah saudara pada tahun 1986. Sehingga jumlah saudara mulai tahun 1986 - 1999 sebanyak 108.267


ARTI LAMBANG

Segi empat panjang
- Bermakna Perisai.

Dasar Hitam
- Bermakna kekal dan abadi.

Hati putih bertepi merah
- Bermakna cinta kasih ada batasnya.

Merah melingkari hati putih
- Bermakna berani mengatakan yang ada dihati/kata hati

Sinar
- Bermakna jalannya hukum alam/hukum kelimpahan

Bunga Terate
- Bermakna kepribadian yang luhur

Bunga terate mekar, setengah mekar dan kuncup.
- Bermakna dalam bersaudara tidak membeda-bedakan latar belakang

Senjata silat
- Bermakna pencak silat sebagai benteng Persaudaraan.

Garis putih tegak lurus ditengah-tengah merah
- Bermakna berani karena benar, takut karena salah

Persaudaraan Setia Hati Terate
- Bermakna mengutamakan hubungan antar sesama yang tumbuh dari hati yang tulus, ikhlas, dan bersih.
- Apa yang dikatakan keluar dari hati yang tulus.
- Kepribadian yang luhur.

Hati putih bertepi merah terletak ditengah-tengah lambang
- Bermakna netral

SERAGAM DASAR : HITAM-HITAM dengan tali pengganti kancing

PSHT DI PALEMBANG

DARYONO/PANCA SUORO
Jl. Purwosari II No. 024-025 RT.049 RW.010 Kel. Bukit Sangkal Kec. Kalidoni Palembang 08127101964

Juga beberapa tempat lainnya seperti di Perumnas talang kelapa yang berlatih pada Senin malam dan Jumat malam, begitu juga di daerah kertapati.


SUMBER : http://www.shterate.com


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:41 AM
for everyone
Category:Other
Perguruan Seni Ilmu Beladiri Kung Fu IKS.PI. Kera Sakti

Merupakan kombinasi dari seni ilmu beladiri kungfu dataran Tiongkok Cina dengan pengembangan teknik ilmu beladiri yang dilakukan oleh pendiri sekaligus Guru Besar perguruan ini dan juga dengan penambahan teknik seni pernafasan ilmu tenaga dalam sebagai pelengkap dalam pelajaran perguruan.

Materi Perguruan


Didalam metode latihan perguruan ini, terdapat 5 tahapan penting untuk mencapai tingkatan tertinggi dari Perguruan Seni Ilmu Beladiri Kung Fu IKS.PI. Kera Sakti, yaitu :


1. Tingkat dasar I sabuk hitam dengan lama latihan 6 bulan.
2. Tingkat dasar II sabuk kuning dengan lama latihan 6 bulan.
3. Warga tingkat I sabuk biru dengan lama latihan 1 tahun.
4. Warga tingkat II sabuk merah.
5. Warga tingkat III sabuk merah strip emas.



I. Materi Latihan Tingkatan Dasar I Sabuk Hitam

Untuk latihan awal siswa tingkatan dasar I harus melewati 3 tahapan penting didalam latihan, yaitu :

· Tingkatan awal, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar perguruan.

· Tingkatan menengah, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan.

· Tingkatan akhir, yaitu materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke tingkatan dasar II.


Adapun materi yang diberikan adalah :

- Teknik Senam Pelemasan dan Yoga

- Teknik Dasar Pukulan dan Tendangan
8 teknik dasar pukulan
5 teknik dasar tendangan
3 teknik dasar tangkisan
3 teknik dasar kelitan

- Teknik Dasar Pernafasan
3 teknik dasar pernafasan Chi Kung

- Teknik Dasar Pengembangan Jurus
teknik dasar jurus kuda kuda Bhesi
3 teknik dasar jurus pengembangan Way Jien
3 teknik dasar jurus kombinasi Toan Ta
3 teknik dasar jurus bantingan San So



II. Materi Latihan Tingkatan Dasar II Sabuk Kuning



Untuk latihan awal siswa tingkatan dasar II harus melewati 3 tahapan penting didalam latihan, yaitu :

1. Tingkatan awal, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan dasar lanjutan perguruan.
2. Tingkatan menengah, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan lanjutan.

3. Tingkatan akhir, yaitu materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat I.

Adapun materi yang diberikan adalah :

- Teknik Senam Pelemasan dan Yoga

- Teknik Dasar Pukulan dan Tendangan
8 teknik dasar tendangan

- Teknik Dasar Penafasan
2 teknik dasar pernafasan Chi Kung

- Teknik Dasar Pengembangan Jurus
2 teknik dasar jurus pengembangan Way Jien
2 teknik dasar jurus pengembangan toya
2 teknik dasar jurus kombinasi Toan Ta
3 teknik dasar jurus bantingan San So


III. Materi Latihan Warga Tingkat I Sabuk Biru

Untuk latihan awal warga tingkat I harus melewati 3 tahapan penting didalam latihan, yaitu :

1. Tingkatan awal, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan perguruan yang lebih rumit.

2. Tingkatan menengah, yaitu materi latihan dimana siswa mulai mempelajari gerakan kombinasi.

3. Tingkatan akhir, yaitu materi latihan dimana siswa akan diuji untuk melanjutkan ke warga tingkat II.

Adapun materi yang diberikan adalah :

- Teknik Senam Pelemasan dan Yoga

- Teknik Dasar Pukulan dan Tendangan

5 teknik pukulan kombinasi lanjutan
5 teknik tendangan kombinasi lanjutan

- Teknik Dasar Penafasan

1 teknik dasar pernafasan Chi Kung

- Teknik Dasar Pengembangan Jurus

5 teknik dasar jurus pengembangan Way Jien
2 teknik dasar jurus kombinasi double stick
teknik pernafasan tenaga dalam

IV. Materi Latihan Warga Tingkat II Sabuk Merah

Untuk latihan bagi warga tingkat II lebih banyak mengacu kepada pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi namun kami meminta maaf karena materi yang diberikan tidak dapat kami sampaikan melalui media ini.

V. Materi Latihan Warga Tingkat III Sabuk Merah Strip Emas

Untuk latihan bagi warga tingkat III lebih banyak mengacu kepada pemantapan dari pengembangan, kecepatan dan refleksitas gerakan jurus maupun kombinasi namun kami meminta maaf karena materi yang diberikan tidak dapat kami sampaikan melalui media ini.

SERAGAM : Hitam lis putih


SENJATA : -

IKSPI KERA SAKTI DI PALEMBANG
berpusat di Lr Mandi Api KM 5 dan tersebar juga di beberapa tempat seperti di Kertapati, kenten dan bebebrapa tempat lainnya.

SUMBER : http://www.geocities.com/bela_diri/


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:34 AM
for everyone
Category:Other
Merpati Putih (MP) merupakan salah satu perguruan pencak silat bela diri Tangan Kosong (PPS Betako) dan merupakan salah satu aset budaya bangsa, mulai terbentuk aliran jenis beladiri ini pada sekitar tahun 1550-an dan perlu dilestarikan serta dikembangkan selaras dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi dewasa ini. Saat ini MP merupakan salah satu anggota Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) dan Martial Arts Federation For World Peace (MAFWP) serta Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa atau PERSILAT (International Pencak Silat Federation).



Arti Nama dan Motto

Arti dari Merpati Putih itu sendiri adalah suatu singkatan dalam bahasa Jawa, yaitu:

Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening yang dalam bahasa Indonesia berarti "Mencari sampai mendapat Kebenaran dengan Ketenangan" sehingga diharapkan seorang Anggota Merpati Putih akan menyelaraskan hati dan pikiran dalam segala tindakannya. Selain itu PPS Betako Merpati Putih mempunyai motto: "Sumbangsihku tak berharga, namun Keikhlasanku nyata".



Sejarah

Merpati putih (MP) merupakan warisan budaya peninggalan nenek moyang Indonesia yang pada awalnya merupakan ilmu keluarga Keraton yang diwariskan secara turun menurun, yang pada akhirnya atas wasiat Sang Guru ilmu Merpati Putih diperkenankan dan disebarluaskan dengan maksud untuk ditumbuhkembangkan agar berguna bagi negara.

Awalnya aliran ini dimiliki oleh Sampeyan Dalem Inkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro kemudian ke BPH Adiwidjojo (Grat I). Lalu setelah Grat ke tiga, R. Ay. Djojoredjoso ilmu yang diturunkan dipecah menurut spesialisasinya sendiri-sendiri, seni beladiri ini mempunyai dua saudara lainnya. yaitu bergelar Gagak Samudro dan Gagak Seto. Gagak Samudro diwariskan ilmu pengobatan, sedangkan Gagak Seto ilmu sastra. Dan untuk seni beladiri diturunkan kepada Gagak Handoko (Grat IV). Dari Gagak Handoko inilah akhirnya turun temurun ke Mas Saring lalu Mas Poeng dan Mas Budi menjadi PPS Betako Merpati Putih. Hingga kini, kedua saudara seperguruan lainnya tersebut tidak pernah diketahui keberadaan ilmunya dan masih tetap dicari hingga saat ini ditiap daerah di tanah air guna menyatukannya kembali.

Pada awalnya ilmu beladiri Pencak Silat ini hanya khusus diajarkan kepada Komando Pasukan Khusus ditiap kesatuan ABRI dan Polisi serta Pasukan Pengawalan Kepresidenan (Paspampres).

Didirikan pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, mempunyai kurang lebih 35 cabang dengan kolat (kelompok latihan) sebanyak 415 buah (menurut data tahun 1993) yang tersebar di seluruh Nusantara dan saat ini mempunyai anggota sebanyak satu juta orang lulusan serta yang masih aktif sekitar 100 ribu orang dan tersebar di seluruh Indonesia.

Sang Guru Merpati Putih adalah Bapak Saring Hadi Poernomo, sedangkan pendiri Perguruan dan Guru Besar sekaligus pewaris ilmu adalah Purwoto Hadi Purnomo (Mas Poeng) dan Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi) sebagai Guru Besar terakhir yaitu generasi ke sebelas (Grat XI).

PPS Betako Merpati Putih berasal dari seni beladiri keraton. Termasuk diantaranya adalah Pangeran Diponegoro.

Berikut Silsilah Turunan aliran PPS Betako Merpati Putih:

BPH ADIWIDJOJO: Grat-I PH SINGOSARI: Grat-II

R Ay DJOJOREDJOSO: Grat-III GAGAK HANDOKO: Grat-IV

RM REKSO WIDJOJO: Grat-V R BONGSO DJOJO: Grat-VI

DJO PREMONO: Grat-VII RM WONGSO DJOJO: Grat-VIII

KROMO MENGGOLO: Grat-IX SARING HADI POERNOMO: Grat-X

POERWOTO HADI POERNOMO dan BUDI SANTOSO HADI POERNOMO: Grat-XI

Amanat Sang Guru, seorang Anggota Merpati putih haruslah mengemban amanat Sang Guru yaitu :

Memiliki rasa jujur dan welas asih , Percaya pada diri sendiri , Keserasian dan keselarasan dalam penampilan sehari-hari , Menghayati dan mengamalkan sikap itu agar menimbulkan Ketaqwaan kepada Tuhan.

Pada tahun 1995, seorang anggota PPS Betako Merpati Putih cabang Jakarta Selatan, Mas Eddie Pasar mendapat piagam penghargaan Rekor dari Musium Rekor Indonesia (MURI) karena mendemonstasikan menyetir mobil terjauh dari Bogor ke Jakarta dengan mata tertutup.

Hingga tahun 1998 PPS Betako Merpati Putih masih hanya untuk Warga Negara Indonesia saja. Namun karena minat dari luar negeri sangat banyak dan antusias, MP mulai membuka diri untuk menerima anggota dari luar negeri. Adalah Nate Zeleznick dan Mike Zeleznick sebagai orang berkulit putih pertama yang diajarkan pencak silat ini pada tahun 1999 dan menjadi Guru Merpati Putih Pertama di Amerika. Pada awal bulan Oktober 2000 Mas Pung dan Mas Budi meresmikan American School of Merpati Putih yang pertama berlokasi di Ogden City Mall, Utah. MP adalah satu-satunya Pencak Silat yang diselidiki secara ilmiah mengenai masalah adanya tenaga dalam.



Beladiri Tangan Kosong (Betako)

Latihan Merpati Putih mementingkan aspek beladiri tanpa senjata/tangan kosong. Bagian-bagian tubuh manusia dapat digunakan sebagai senjata yang tak kalah ampuhnya dengan senjata sesungguhnya. Tetapi walaupun begitu pada anggota Merpati Putih secara ekstra kurikuler (bukan kurikulum latihan) diperkenalkan senjata, sifat dan karakteristik senjata, cara menghadapi dan sebagainya.



Tujuan

PPS Betako Merpati Putih adalah salah satu warisan ilmu beladiri karya nenek moyang Indonesia asli, dan bertujuan menempa kepribadian anggota-anggotanya agar berwatak dan berkepribadian kuat, harmonis, dinamis serta patriotis, sesuai filsafat Indonesia, yaitu Pancasila.



Jurus dan Tenaga Dalam

Merpati Putih menggunakan tenaga dalam asli manusia, dengan permainan napas. Pada orang biasa, tenaga asli tersebut dapat dilihat dan digunakan hanya pada saat orang bersangkutan dalam kondisi terdesak saja. Misal: melompat pagar saat anjing mengejarnya di jalan yang buntu. Dalam keadaan kembali normal / tidak terdesak, orang tersebut serasa tidak percaya telah melompati pagar yang tinggi tersebut. Maka di dalam Pencak Silat ini, bagaimana menggunakan tenaga ekstra asli manusia tersebut pada saat normal, kapanpun dan dimanapun.

Secara normal sel dalam tubuh manusia menghasilkan zat yang bernama Adenosine Triphospate (A.T.P) yang merupakan cadangan energi dalam tubuh. Maka dengan bantuan teknik olah nafas, tenaga tersembunyi manusia itu dapat di latih untuk diperoleh dan dikumpulkan di dalam tubuh. Ada banyak Jurus (teknik olah) Pernapasan di dalam Pencak Silat ini diantaranya Pernapasan Pembinaan dan Pernapasan Pengolahan. Juga Ada beberapa Teknik Jurus diantaranya adalah Rangkaian Gerakan Terikat (RGT) dan Rangkaian Gerakan Bebas (RGB) Selain itu juga ada beberapa Teknik Langkah dan Gerak, diantaranya adalah Langkah Praktis dan Gerak Praktis.

Selain dari Diri Sendiri (energi badan), pengambilan energi getaran di Pencak Silat Merpati Putih ini dapat pula diambil dari alam seperti dari Bumi (energi tanah juga pohon yang berusia amat tua), atau bahkan energi dari Angkasa (energi bintang, matahari ataupun bulan.

Beberapa tahun belakangan, ilmu tenaga dalam Merpati Putih yang mengandung energi dan getaran ini telah diselidiki lebih jauh secara ilmu pengetahuan dan dikembangkan juga untuk pengobatan serta untuk kepentingan orang tuna netra, agar mereka bisa membaca, membedakan dan mengenali warna serta dapat mempermudah segala aktifitas lainnya sehari-hari.



Tingkatan dan Latihan

Ada dua belas tingkatan di dalam PPS Betako Merpati Putih ini. Tingkatan-tingkatan dalam PPS Betako Merpati Putih dimulai dengan:

Tingkat Dasar I, tingkatan pertama masih berstatus calon anggota, walaupun telah berseragam baju atau kaos berwarna putih, celana hitam, kerah baju merah dengan label nama diri di dada namun sabuk masih putih polos.

Tingkat Dasar II, tingkatan kedua dan seterusnya telah memakai seragam anggota tanpa nama diri dengan lambang IPSI dan lambang Merpati Putih di dada serta bersabuk merah polos.

Tingkat Balik I, sabuk merah (tanpa strip) dengan lambang Merpati Putih di salah satu ujungnya.

Tingkat Balik II, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip merah di salah satu ujungnya.

Tingkat Kombinasi I, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip jingga di salah satu ujungnya.

Tingkat Kombinasi II, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip kuning di salah satu ujungnya.

Tingkat Khusus I (Khusus Tangan), sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip hijau di salah satu ujungnya.

Tingkat Khusus II (Khusus Kaki), sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip biru di salah satu ujungnya.

Tingkat Khusus III (Khusus Badan), sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip nila di salah satu ujungnya.

Tingkat Penyegaran, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip ungu di salah satu ujungnya.

Tingkat Inti I, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip putih di salah satu ujungnya.

Tingkat Inti II, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip putih dua buah di salah satu ujungnya.

Para anggota berlatih paling tidak dua kali dalam seminggu di suatu Kelompok Latihan atau biasa disebut Kolat. Setiap kali latihan memakan waktu sekitar kurang-lebih dua jam. Pada tiap tahun, yaitu tepatnya setiap Tahun Baru 1 Suro atau 1 Muharam, seluruh anggota dari Sabang sampai Merauke diperbolehkan mengikuti dan berkumpul bersama-sama anggota lainnya di Yogyakarta, tepatnya di pantai Parang Kusumo untuk latihan bersama dari semua Tingkatan. Juga diadakan Napak Tilas di daerah Bukit Manoreh. Acara ini sudah merupakan tradisi di dalam perguruan pencak silat ini yang berguna untuk mengetahui dan dapat bertukar pikiran antar anggota satu dengan anggota lainnya.

Di Palembang PPS Betako Merpati Putih berlatih di beberapa tempat seperti di Komplek Pertamina Plaju dan Sungai Grong.


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:30 AM
for everyone
Category:Other
Sejarah Singkat

Pada awal mulanya pada waktu itu kurang lebih tahun 1964 di seberang lautan ujung pulau Sumatera yaitu Pulau Bangka tepatnya di Pangkal Pinang, berdirilah sebuah perguruan silat yang di beri nama "DIKAPASITA" yang merupakan singkatan dari "Didikan Pencak Silat Alam" dengan tokoh pendiri pertamanya adalah Bpk Abdurahman Syukur yang merupakan pesilat yang ternama pada masanya, dimana pada awal mulanya perguruan ini hanya beranggotakan sekitar 85 orang.

Seiring dengan perkembangan waktu perguruan silat Dikapasita dari masa kini berkembang dan sehingga tahun 1967, berkembang di Palembang yang di bawa oleh pesilat terbaik pada waktu itu yaitu Bpk Imam Roesdi Bahusin yang kebetulan pindah tugas ke Palembang (Beliau seorang anggota TNI AD) dan menjadi Ketua Perguruan Dikapasita cabang Palembang dan bertempat tinggal di 5 ulu seberang ulu 1 Palembang, dengan perkembangannya yang begitu pesat, sehingga akhirnya perguruan pencak silat DIKAPASITA di kukuhkan menjadi anggota IPSI dengan SK No:087/PENGDA/IPSI/SS/1973

Perkembangan perguruan silat DIKAPASITA terus berlangsung dengan bermodalkan serta berbekal keterampilan dan nilai-nilai sportivitas yang tinggi perguruan pencak silat DIKAPASITA aktif mengikuti kegiatan yang di selenggarakan oleh IPSI dan Allhamdulilah pesilat-pesilat perguruan pencak silat DIKAPASITA bisa memperoleh yang terbaik di kelasnya dengan memperoleh medali dan penghargaan lainnya. selain itu banyak juga kendala-kendala yang di hadapi oleh perguruan pencak silat DIKAPASITA tetapi dapat di hadapi dengan lapang dada.

Sejalan dengan perkembangan perguruan pencak silat DIKAPASITA terus berkembang ke seluruh penjuru tanah air diantaranya di ibu kota Jakarta, Pekan baru, Jambi, Batam, Bandar Lampung dan untuk di wilayah Palembang terdapat cabang dan ranting seperti : di Lubuk Linggau, Semendo, Gumai, Bukit Kemuning, Talang Ubi/ Payo besar, suban, Menanti, Pinang Banjar, Pelempang, Gelumbang, Pagar Gunung, Prabumulih, Batu raja, Manggala, Tanjung Raja, Kayu Agung, Payoraman, Teluk Jaya, Musi Raya, Gedung Buruk, Kurung Nyawa, Mariana dan beberapa daerah lainnya, adapun ranting yang ada di wilayah Palembang sendiri adalah ; Ranting Kertapati ( Jambangan), Ranting Plaju, Ranting Kenten Laut

Seragam Dasar : Hijau Hijau dengan Sabuk Putih

Senjata Khas Perguruan : Tongkat & Golok

Teknik : Jurus, Sambut ( Teknik Untuk Berpasangan), Gerak Seni

Sumber

Sekretariat Perguruan Pencak Silat DIKAPASITA

Jl. KH A Wahid Hasyim Lr. Terusan 1 RT:41 RW:11 No.1655/1666 5 Ulu darat Kertapati Palembang 30254 HP: 0813-67618755 Bpk Gabariyah/Slamet


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:25 AM
for everyone
Category:Other
PENCAK silat tampaknya cukup identik dengan santri karena di pesantren-pesantren biasanya diajarkan ilmu bela diri ini. Ada benarnya juga, tetapi tidak benar juga, ujar H. Ashabul Anbiya, S.H., dari Perguruan Silat Nasional (Persinas) ASAD Jawa Barat yang menjadi ketua panpel pada Kejurda Persinas di GOR Pajajaran yang berakhir Minggu (4/1).

Ashabul mengatakan kejurda kali ini memang diikuti sebagian besar jebolan pesantren, bahkan salah satu persyaratan peserta adalah harus mendapat izin dari kiai daerah asal. Namun, tidak seluruh peserta merupakan jebolan dari pesantren, bahkan ada juga peserta yang mantan preman, ujarnya.

Seperti perguruan pencak silat lainnya, Persinas ASAD yang bernaung di bawah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), terbuka bagi siapa saja, asal mematuhi aturan perguruan. Jadi, anggota mereka memiliki latar belakang beragam walau sebagian besar merupakan santri anggota LDII.

Pada kesempatan tersebut, Ashabul mengharapkan Persinas ASAD bias memberikan sumbangsih untuk kemajuan pencak silat di Jawa Barat. Sebagai perguruan anggota IPSI Jawa Barat, kami tentunya ingin memberikan sesuatu bagi pencak silat Jawa Barat, ujar Ashabul sambil mengatakan salah seorang anggota Persinas asal Kota Cimahi akan memperkuat Jawa Barat pada pra-PON nanti.

Pembinaan di Persinas dipastikan akan berkesinambungan karena mereka sudah memiliki jalur kompetisi. Pesilat terbaik pada kejurda kali ini akan menjadi wakil Jawa Barat pada kejurnas. Mudah-mudahan pada masa mendatang akan muncul pesilat berprestasi dari Persinas ASAD Jawa Barat, harap Ashabul sambil mengatakan perguruannya berdiri pada 1993. (P-05)***
http://www.pikiran-rakyat.com

Makna Warna Sabuk Persinas ASAD

Tingkat I / Sabuk Putih / Siswa I

Warna putih pada sabuk mempunyai makna lembaran putih dan bersih dengan tulus ikhlas, ridho dan suci. Bagi seorang calon pesilat untuk diberikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap dasar tentang ilmu beladiri.


Tingkat II / Sabuk Hijau / Siswa II

Warna hijau pada sabuk memberi makna kedamaian hati setalah diberikan pelajaran dasar tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap sehingga memberi keteduhan hati dan bangga dengan ilmu yang dimilikinya.


Tingkat III / Sabuk Hijau Strip Kuning / Asisten Muda

Warna hijau yang memberikan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan serta dipersiapkan untuk menjadi pesilat yang berkualitas dan berbudi pekerti luhur yang dilambangkan strip kuning pada sabuk.


Tingkat IV / Sabuk Kuning / Asisten Madya

Warna kuning melambangkan keluhuran budi pekerti (akhlaqul karimah) dan keagungan jiwa serta berkualitas, sehingga pesilat makin banyak ilmunya makin berbudi pekerti yang luhur.


Tingkat V / Sabuk Kuning Strip Biru / Asisten Utama

Dengan budi pekerti yang luhur dan keagungan jiwa disertai cita-cita yang luhur, semangat belajar dan tabah dalam menghadapi tantangan yang dilambangkan dengan strip biru pada sabuk.


Tingkat VI / Sabuk Biru / Pelatih Muda

Warna biru melambangkan semangat belajar yang tinggi, dengan percaya diri serta dapat menjaga martabat dan mampu menguasai serta mengendalikan diri walaupun banyak tantangan, rintangan dan halangan.


Tingkat VII / Sabuk Biru Strip Coklat / Pelatih Madya

Dengan semangat dan cita-cita yang tinggi menjadikan percaya diri, selalu menegakkan kebenaran, kejujuran dan menghormati sesama insan.


Tingkat VIII / Sabuk Coklat / Pelatih Utama

Warna coklat tua melambangkan sikap damai, bersahabat, selalu rendah hati dan senantiasa menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan.


Tingkat IX / Sabuk Coklat Bintang Merah 1 / Guru Muda

Bersikap damai dan bersahabat, ramah dan sopan, senantiasa menegakkan kebenaran.


Tingkat X / Sabuk Coklat Bintang Merah 2 / Guru Madya

Senantiasa mengupayakan perdamaian dan persahabatan dengan sesame. Keramahan dan kesopanan ditingkatkan, dengan keberanian yang tinggi membela kebenaran.

Tingkat XI / Sabuk Merah / Guru Utama

Merah melambangkan keberanian dalam membela kebenaran, berjiwa besar, mawas diri, pemaaf dan mengutamakan kepentingan umum dan dapat menjadi panutan.


Tingkat XII / Sabuk Merah Garis Tepi Emas / Guru Besar

Berjiwa besar sebagai pendekar, bisa meramut dan membina serta sebagai pengayom.


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:12 AM
for everyone
Category:Other
Sejarah Singkat

Pada awal perguruan lebah sakti ini merupakan perguruan silat kuntau dari kayu are Sekayu dimana seperti silat-silat biasanya menggunakan kuda-kuda rendah yang di padu dengan teknik menggunakan tangan dan kaki, awal nya perguruan ini adalah PALKAR (Palembang Kayu Are) tetapi semenjak 1985 dan mulai terdaftar di IPSI maka mulai di rubah namanya menjadi Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti.

Seragam Dasar : Hitam-hitam ( Standard IPSI)

Tingkatan : tingkatan di tandai dengan lis yang ada di lengan baju dengan ujian tingkatan 6 bulan sekali untuk tingkatan tertinggi (Sialang Agung Bpk Husin Ahmad ).

Senjata Khas Perguruan : Parang, Tongkat bermata, Cabang

Teknik : Jurus, Gerak Seni (Tangan Kosong Dan Senjata)

Tempat latihan Lainnya :

Bukit Sangkal depan perumahan PLN, SMPN 22 , Jl Pembangunan Pakjo, KM 8 Samping Trakindo, MTS 2 Pakjo

Sumber : Perguruan Pencak Silat Lebah Sakti

SMA /SMP Karya Sejati Jl.Demang Lebar Palembang (Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00)

Contac Person : Bpk Alfariza


ReviewReviewReviewReviewReviewAug 30, '08 3:09 AM
for everyone
Category:Other
Sejarah Singkat
Pada awal perguruan merupakan perpaduan dari beberapa perguruan silat yang ada di Palembang yang berakar dari perguruan silat Putra jaya yang di padu dengan silat Komindo maka pergruan ini terbentuk, dengan paduan gerakan tangan dan kaki perguruan ini juga bercirikan Palembang asli seperti (beTanggem), banyak juga atlit yang di cetak dari perguruan ini seperti Bpk. Ganda Wijaya yang sudah berprestasi Nasional..

Seragam Dasar : Abu-abu

Tingkatan : tingkatan di tandai dengan lis yang ada di sabuk/ angkin lengan baju dengan ujian tingkatan 6 bulan sekali.

Senjata Khas Perguruan : Tongkat, Cabang, Golok

Teknik : Jurus, Gerak Seni (Tangan Kosong Dan Senjata)

Tempat latihan Lainnya :

Masjid Baitul Karim Prumnas Tlg Kelapa Blok VII Tlg kelapa, Sekolah Farmasi Sekip Bendung.

Sumber : Perguruan Pencak Silat Tunas Harapan

Gedung Olah Raga / Sport Hall Jl Pom IX Palembang (Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00)

Contac Person : Bpk Alimuddin telp : 0852-67922765 / 9161307