Senin, 16 Juni 2008 PALEMBANG - Kejurnas Tapak Suci di Yogyakarta 25-31 Juli mendatang cukup bergengsi. Salah satunya karena diikuti para pesilat tapak suci terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia. Tak pelak, Pimpinan Daerah (Pimda) Tapak Suci Palembang dan Klub Bank Sumsel menggelar seleksi sebagai persiapan ke kejurnas. Seleksi ini sendiri digelar kemarin (15/6) di gedung Rajawali Bank Sumsel. Diikuti 126 peserta yang merupakan gabungan dari 20 cabang tapak suci di Palembang. Di antaranya SMA 20, MtsN 1, Darul Aitam, IAIN Raden Fatah, Amalul Khoir, MAN2, UMP, SMAN 7, Balayudha, Taruna, 3-4 Ulu. “Kami tidak muluk dengan target tertentu. Hanya saja, kami janji untuk memberikan yang terbaik,” cetus Abas Akbar, Ketua Tapak Suci Bank Sumsel dan Pimda Tapak Suci Palembang. Ada 12 kelas yang di pertandingan, yaitu 7 kelas putra (A,B,C,D,F, dan G). Serta 5 kelas putri (A,B,C.D, dan E). Hingga berita ini diturunkan, sudah ada beberapa pemenang di kelasnya. Antara lain di bagian putra Ilham (IAIN Raden Fatah) kelas A, dan Dodi (MAN 2) kelas E. Di bagian putri,Lisa (Darul Aitam) di kelas A, Dwi (MAN II) di kelas B, dan Wenti (Taruna) kelas E. “Soal saingan, saya pikir yang terbaik saat ini pesilat dari Jateng, Jabar dan Sulsel,” pungkasnya. Tapak Suci sendiri pada PON XVII Kaltim pertengahan Juli 2008 nanti, turut memberikan andil. Ada 4 pesilat dari Tapak Suci yang memperkuat Sumsel, yaitu Nina, Sihabunmubin, Satar dan Martono. (mg2)
Sejarah Singkat Pada awal perguruan merupakan perpaduan dari beberapa perguruan silat yang ada di Palembang yang berakar dari perguruan silat Putra jaya yang di padu dengan silat Komindo maka pergruan ini terbentuk, dengan paduan gerakan tangan dan kaki perguruan ini juga bercirikan Palembang asli seperti (beTanggem), banyak juga atlit yang di cetak dari perguruan ini seperti Bpk. Ganda Wijaya yang sudah berprestasi Nasional.. Seragam Dasar : Abu-abu Tingkatan : tingkatan di tandai dengan lis yang ada di sabuk/ angkin lengan baju dengan ujian tingkatan 6 bulan sekali. Senjata Khas Perguruan : Tongkat, Cabang, Golok Teknik : Jurus, Gerak Seni (Tangan Kosong Dan Senjata) Tempat latihan Lainnya : Masjid Baitul Karim Prumnas Tlg Kelapa Blok VII Tlg kelapa, Sekolah Farmasi Sekip Bendung. Sumber : Perguruan Pencak Silat Tunas Harapan Gedung Olah Raga / Sport Hall Jl Pom IX Palembang (Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00) Contac Person : Bpk Alimuddin telp : 0852-67922765 / 9161307
Sejarah Singkat Pada awal perguruan lebah sakti ini merupakan perguruan silat kuntau dari kayu are Sekayu dimana seperti silat-silat biasanya menggunakan kuda-kuda rendah yang di padu dengan teknik menggunakan tangan dan kaki, awal nya perguruan ini adalah PALKAR (Palembang Kayu Are) tetapi semenjak 1985 dan mulai terdaftar di IPSI maka mulai di rubah namanya menjadi Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti. Seragam Dasar : Hitam-hitam ( Standard IPSI) Tingkatan : tingkatan di tandai dengan lis yang ada di lengan baju dengan ujian tingkatan 6 bulan sekali untuk tingkatan tertinggi (Sialang Agung Bpk Husin Ahmad ). Senjata Khas Perguruan : Parang, Tongkat bermata, Cabang Teknik : Jurus, Gerak Seni (Tangan Kosong Dan Senjata) Tempat latihan Lainnya : Bukit Sangkal depan perumahan PLN, SMPN 22 , Jl Pembangunan Pakjo, KM 8 Samping Trakindo, MTS 2 Pakjo Sumber : Perguruan Pencak Silat Lebah Sakti SMA /SMP Karya Sejati Jl.Demang Lebar Palembang (Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00) Contac Person : Bpk Alfariza
Sumatera Ekpress, Jumat, 25 April 2008 PALEMBANG – Terus berlatih untuk mengasah keterampilan ternyata belumlah cukup menjadi seorang pendekar sejati. Harus diimbangi dengan mental spiritual. Itu ditekankan pengprov IPSI Sumsel pada acara temu perguruan pencak silat se-Palembang, di RM Pagi Sore, kemarin. Tim yang diketuai Eddy Yusuf mengharapkan kepada setiap perguruan agar membina mental spiritual para pesilat untuk menciptakan pendekar yang ksatria. “Saya harapkan untuk semua perguruan agar filosofi pencak silat diterapkan. Ciptakan pendekar yang ksatria, dengan pembinaan mental dan spiritual. Jangan hanya teknik silat saja. Jika itu sudah, maka negara kita tercinta ini akan kembali besar,” ungkap Eddy Yusuf, saat menyampaikan kata sambutan. Orang nomor satu di Kabupaten OKU itu menginginkan setiap perguruan silat bukan hanya sebagai simbol. Tapi, menjadi tonggak untuk mempersatukan serta memperjuangkan hak-hak dan keadilan seluruh rakyat. “Saya ingin perguruan silat yang ada di Sumsel semuanya berkembang bagus. Para dewan guru harus mampu membina pesilat untuk menjadi pendekar yang berkualitas. Semua harus dimulai sejak dini,” lanjutnya. Untuk diketahui, perguruan pencak silat di Sumsel tak kurang dari 130 perguruan. Di Palembang saja ada sekitar 75 perguruan, seperti Bunga Rampai, Naga Mas, Setia Hati Terate, Putra Jaya dan Tapak Suci. “Perguruan merupakan syiar agama. Lakukan apa yang kita bisa diberikan untuk kepentingan rakyat. Di mana ada perguruan, harus dibuat aman dan tentram karena kita bukan preman,” tukasnya. (mg14/mg30)
 | Info.. | Apr 1, '08 6:20 AM for everyone |
Mohon info dari rekan rekan kalau ada perguruan dari rekan-rekan ada di Palembang bisa di sampai kan ke saya Nama Perguruan, Alamat dan contac person untuk menjadi bahan liputan saya. Atas Bantuannya trima kasih.
Ditulis pada Februari 9, 2008 oleh supriadi Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumsel, Eddy Yusuf, SH,MM menegaskan bahwa target utama dari program IPSI Sumsel adalah mengejar semua emas dalam PON XVII 2008 yang diselenggarakan di Kaltim pada 6-16Juli 2008 mendatang. Target ini merupakan sesuatu yang sangat wajar mengingat di dalam kejuaraan-kejuaraan sebelumnya atlet-atlet silat Sumsel selalu mampu menyabut banyak medali mas. Hal tersebut disampaikan Eddy saat memberikan sambutan pada acara pelantikan pengurus IPSI Kota Palembang yang dilaksanakan sore ini (Sabtu 9/2) di halaman Musium SMB II Benteng Kuto Besak Palembang. Hadir dalam acara tersebut para pendekar dari dunia persilatan yang ada di kota Palembang, para sesepuh, pengurus IPSI propinsi dan anggota klub silat dengan seragam hitam-hitam. Eddy Yusuf dalam pidatonya juga menekankan kepada seluruh pesilat di Sumsel agar menjadi seorang pesilat sejati. “Pesilat adalah orang yang tidak pernah takut berkorban nyawa sekalipum demi membela kebenaran”, ujar Eddy yang berapi-api membakar semangat para pendekar dan disambut dengan tepukan sumsel.wordpress.com
(Versi PB IPSI, diambil dari www.persilat.net) Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama. Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun. Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur. Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas. Sejarah perkembangan Pencak Silat secara selintas dapat dibagi dalam kurun waktu : a. Perkembangan sebelum zaman penjajahan Belanda b. Perkembangan pada zaman penjajahan Belanda c. Perkembangan pada zaman penjajahan Jepang d. Perkembangan pada zaman kemerdekaan a. Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju. Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur. Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok. Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi. Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri. Untuk menjadi prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri dipupuk bersama ajaran kerohanian. Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan ketinggian ilmu bela dirinya. Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan bangsa Indonesia. b. Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah. Pemerintah Belandan tidak memberi kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya. Larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya. Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja. Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang. Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya. c. Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda. Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu. Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat. Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah. Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita. Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita. d. Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional. Melalui Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro. Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah. Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia dengan nama "Pencak Silat" yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua daerah di Indonesia menggunakan istilah Pencak Silat. Di beberapa daerah di jawa lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat. Sedang kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat. Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan. Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri/ manusia dari bela diri atau bencana. Dewasa ini istilah pencak silat mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan kebatinan. Definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB. IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai berikut : "Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela/mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian Umumnya Pencak Silat mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai insan atau mahluk hidup yang pecaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya, Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian/kebatinan diberikan kepada siswa yang telah lanjut dalam menuntut ilmu Pencak Silatnya. Sasarannya adalah untuk meningkatkan budi pekerti atau keluhuran budi siswa. Sehingga pada akhirnya Pencak Silat mempunyai tujuan untuk mewujudkan keselarasan/ keseimbangan/keserasian/alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi Pembangunan Nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais. Pencak Silat sebagai seni Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill). Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga. Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri. Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk menjamin keamanan pribadi. Pencak Silat sebagai olahraga umum Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh laki-laki atau wanita, anak-anak maupun orang tua/dewasa, secara perorangan/kelompok. Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi a. Olahraga rekreasi b. Olahraga prestasi c. Olahraga massal Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan menyimpulkan makalah-makalah : 1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat 2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan 3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah 4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah 5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di lingkungan sekolah 6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di kalangan pelajar/mahasiswa. Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI). Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan) Pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga & pertandingan (Championships) telah dirintis sejak tahun 1969, dengan melalui percobaan-percobaan pertandingan di daerah-daerah dan di tingkat pusat. Pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta telah dipertandingkan untuk pertama kalinya yang sekaligus merupakan Kejuaraan tingkat Nasional yang pertama pula. Masalah yang harus dihadapi adalah banyaknya aliran serta adanya unsur-unsur yang bukan olahraga yang sudah begitu meresapnya di kalangan Pencak Silat. Dengan kesadaran para pendekar dan pembina Pencak Silat serta usaha yang terus menerus maka sekarang ini program pertandingan olahraga merupakan bagian yang penting dalam pembinaan Pencak Silat pada umumnya. Sementara ini Pencak Silat telah disebarluaskan di negara-negara Belanda, Belgia, Luxemburg, Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat, Suriname, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru. Program pembinaan Pencak Silat Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran. Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan warisan nenek moyang kita. Terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran Pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik Kungfu berada di dalam IPSI sehingga lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus menasionalisasikan. Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan khusus olahraga dan bela diri. Sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepad setiap perguruan yang ada. Sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi : 1. Jalur pembinaan seni 2. Jalur pembinaan olahraga 3. Jalur pembinaan bela diri 4. Jalur pembinaan kebatinan Keempat jalur ini diolah, dengan saringan dan mesin sosial budaya, yaitu Pancasila. Sumber :http://silat.blogsome.com/
Sejarah Pencak Silat Pencak Silat adalah seni beladiri yang berakar pada rumpun Melayu. Seni beladiri ini banyak ditemukan di Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara-negara yang berbatasan dengan negara etnis Melayu tersebut. Banyak ahli sejarah menyatakan bahwa Pencak Silat pertama kali ditemukan di Riau pada jaman kerajaan Sriwijaya di abad VII walaupun dalam bentuk yang masih kasar. Seni beladiri Melayu ini kemudian menyebar ke seluruh wilayah kerajaan Sriwijaya, semenanjung Malaka, dan Pulau Jawa. Namun keberadaan Pencak Silat baru tercatat dalam buku sastra pada abad XI. Dikatakan bahwa Datuk Suri Diraja dari Kerajaan Pahariyangan di kaki gunung Merapi, telah mengembangkan silat Minangkabau disamping bentuk kesenian lainnya. Silat Minangkabau ini kemudian menyebar ke daerah lain seiring dengan migrasi para perantau. Seni beladiri Melayu ini mencapai puncak kejayaannya pada jaman kerajaan Majapahit di abad XVI. Kerajaan Majapahit memanfaatkan pencak silat sebagai ilmu perang untuk memperluas wilayah teritorialnya. Kerajaan Majapahit menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara. Hanya kerajaan Priyangan di tanah Pasundan yang tidak dapat dikuasai penuh oleh Kerajaan Majapahit. Tentara kerajaan Priyangan ini terkenal akan kehebatan pencak silatnya. Karena wilayahnya yang terisolir, dan terbatasnya pengaruh Majapahit, seni beladiri kerajaan Priyangan hampir tidak mendapat pengaruh dari silat Minangkabau. Pencak silat priyangan ini terkenal dengan nama Cimande. Para ahli sejarah dan kalangan pendekar pada umumnya sepakat bahwa berbagai aliran Pencak Silat yang berkembang dewasa ini, bersumber dari dua gaya yang berasal dari Sumatra Barat dan Jawa Barat seperti diuraikan di atas. Ada juga yang berdasarkan sejarah lain yaitu Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas, yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Sheikh Shamsuddin (2005) berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di nusantara telah diajarkan bersama-sama dengan silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari latihan spiritual. Perkembangan silat selanjutnya banyak didorong oleh para ahli beladiri dari keraton serta para pendekar silat lainnya, yang legenda kehebatan ilmunya banyak tersebar di seantero wilayah nusantara. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat Aspek-aspek Pencak Silat Pencak silat sebagai suatu kesatuan dari empat unsur/aspek sebagai berikut : - Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan "seni" pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
- Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
- Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.
Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa. Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia. Di Rangkum dari berbagai sumber
Sebagai pemimpin muda yang enerjik dan intelektual, Ir H Eddy Santana Putra MT dan H Romi Herton,SH MH sangat layak mendapat penghargaan dan kehormatan. Karena itulah dengan pertimbangan yang matang, Perguruan Pencak Silat DIKAPASITA (Pendidikan Pencak Silat dan Tari Alam) Sumatera Selatan, mengukuhkan kedua tokoh ini sebagai pembina sekaligus pendekar DIKAPASITA.Pengukuhan ini di lakukan langsung oleh guru besar DIKAPASITA Sumsel H Imam Rusdi Bahusin, di tandai dengan pemakaian seragam pendekar DIKAPASITA. Pengukuhan itu di lakukan Rabu (9/1) malam di Lorong terusan keluraha n 5 ulu Palembang. terhadap kehormatan itu , Eddy Santana di dampingi Romi Herton mengatakan sangat bangga dan berterima kasih. Menurutnya, pembinaan terhadap sebuah organisasi akan terus di lakukan, mengingat organisasi-organisasi tersebut merupakan elemen penting di masyarakat untuk mempercepat pembangunan." kita mengharapkan pencak silat ini jadi agenda tahunan, kita akan terus membina," Katanya. Sementara itu H Imam Rusdi Bahusin mengatakan, perguruan DIKAPASITA sudah 41 tahun keberadaanya. Kifrahnya di Palembang juga membantu pemerintah dan masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban, terutama dalam hal mental dan spiritual. Pada kesempatan yang sama Eddy-Romi memberikan bantuan sebesar Rp.20 jt untuk musolah di lorong Terusan, 5 ulu. Setelah itu keduanya berkunjung ke masyarakat, untuk melihat dan mendengar berbagai masukan dan harapan. Sumber : Sriwijaya Post, Sabtu 12 Januari 2008
 Sejarah Singkat Pada awal mulanya pada waktu itu kurang lebih tahun 1964 di seberang lautan ujung pulau Sumatera yaitu Pulau Bangka tepatnya di Pangkal Pinang, berdirilah sebuah perguruan silat yang di beri nama "DIKAPASITA" yang merupakan singkatan dari "Didikan Pencak Silat Alam" dengan tokoh pendiri pertamanya adalah Bpk Abdurahman Syukur yang merupakan pesilat yang ternama pada masanya, dimana pada awal mulanya perguruan ini hanya beranggotakan sekitar 85 orang. Seiring dengan perkembangan waktu perguruan silat Dikapasita dari masa kini berkembang dan sehingga tahun 1967, berkembang di Palembang yang di bawa oleh pesilat terbaik pada waktu itu yaitu Bpk Imam Roesdi Bahusin yang kebetulan pindah tugas ke Palembang (Beliau seorang anggota TNI AD) dan menjadi Ketua Perguruan Dikapasita cabang Palembang dan bertempat tinggal di 5 ulu seberang ulu 1 Palembang, dengan perkembangannya yang begitu pesat, sehingga akhirnya perguruan pencak silat DIKAPASITA di kukuhkan menjadi anggota IPSI dengan SK No:087/PENGDA/IPSI/SS/1973 Perkembangan perguruan silat DIKAPASITA terus berlangsung dengan bermodalkan serta berbekal keterampilan dan nilai-nilai sportivitas yang tinggi perguruan pencak silat DIKAPASITA aktif mengikuti kegiatan yang di selenggarakan oleh IPSI dan Allhamdulilah pesilat-pesilat perguruan pencak silat DIKAPASITA bisa memperoleh yang terbaik di kelasnya dengan memperoleh medali dan penghargaan lainnya. selain itu banyak juga kendala-kendala yang di hadapi oleh perguruan pencak silat DIKAPASITA tetapi dapat di hadapi dengan lapang dada. Sejalan dengan perkembangan perguruan pencak silat DIKAPASITA terus berkembang ke seluruh penjuru tanah air diantaranya di ibu kota Jakarta, Pekan baru, Jambi, Batam, Bandar Lampung dan untuk di wilayah Palembang terdapat cabang dan ranting seperti : di Lubuk Linggau, Semendo, Gumai, Bukit Kemuning, Talang Ubi/ Payo besar, suban, Menanti, Pinang Banjar, Pelempang, Gelumbang, Pagar Gunung, Prabumulih, Batu raja, Manggala, Tanjung Raja, Kayu Agung, Payoraman, Teluk Jaya, Musi Raya, Gedung Buruk, Kurung Nyawa, Mariana dan beberapa daerah lainnya, adapun ranting yang ada di wilayah Palembang sendiri adalah ; Ranting Kertapati ( Jambangan), Ranting Plaju, Ranting Kenten Laut Seragam Dasar : Hijau Hijau dengan Sabuk Putih Senjata Khas Perguruan : Tongkat & Golok Teknik : Jurus, Sambut ( Teknik Untuk Berpasangan), Gerak Seni Sumber Sekretariat Perguruan Pencak Silat DIKAPASITA Jl. KH A Wahid Hasyim Lr. Terusan 1 RT:41 RW:11 No.1655/1666 5 Ulu darat Kertapati Palembang 30254 HP: 0813-67618755 Bpk Gabariyah/Slamet
Banyak kegiatan yang di lakukan oleh perguruan-perguruan silat yang bertujuan menyambut tahun baru islam 1429 H, bermacam kegiatan di lakukan ada yang melakukan pembacaan surah Yassin, melakukan latihan bersama dengan ranting dan cabang yang lain, melakukan syukuran, ataupun kegiatan yang lainnya. Dimana perayaan tahun baru islam tidak seramai pergantian tahun baru masehi tetapi bagai sebagian perguruan pencak silat merupakan awal tonggak untuk perubahan yang lebih baik, seperti yang di lakukan di Palembang banyak perguruan yang melakukan kegiatan pada perayaan malam pergantian tahun baru islam. Seperti ada perguruan yang melakukan pembacaan surah yasin bersama setelah sholat isya dan kemudian di lakukan dengan latihan bersama di pusat perguruan bersama peserta ranting dan cabang lainnya, adapula yang mengumpulkan seluruh anggotanya untuk melakukan syukuran dan doa bersama dan kegiatan lainnya, ada juga yang melakukan latihan sampai pagi karena keesokannya libur. Untuk malam ini saya mengkikuti kegiatan dengan Perguruan Pencak Silat Dikapasita dimana ada malam silaturahmi disertai dengan acara syukuran dan pembacaan yasin, setelah itu di laksanakan plangiran akbar, seperti tahun-tahun sebelumnya setiap pergantian tahun kegiatan seperti ini pasti di adakan tetapi karena kurangnya dokumentasi menyebakan kegiatan tersebut seperti tertutup. dan sudah 4 tahun yang lalu sebelum di laksanakannya kegiatan pelangiran akbar di laksanakan kegiatan pertandingan silat antara cabang dan ranting yang ada di palembang ataupun yang ada di luar palembang. Insya allah kegiatan malam ini akan mempererat tali silaturahmi. " SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1429 HIJRIAH " SEMOGA KITA DAPAT BERHIJRAH MENJADI YANG LEBIH BAIK Salam pesilat, Dodi NP
 Merpati Putih (MP) merupakan salah satu perguruan pencak silat bela diri Tangan Kosong (PPS Betako) dan merupakan salah satu aset budaya bangsa, mulai terbentuk aliran jenis beladiri ini pada sekitar tahun 1550-an dan perlu dilestarikan serta dikembangkan selaras dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi dewasa ini. Saat ini MP merupakan salah satu anggota Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) dan Martial Arts Federation For World Peace (MAFWP) serta Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa atau PERSILAT (International Pencak Silat Federation). Arti Nama dan Motto Arti dari Merpati Putih itu sendiri adalah suatu singkatan dalam bahasa Jawa, yaitu: Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening yang dalam bahasa Indonesia berarti "Mencari sampai mendapat Kebenaran dengan Ketenangan" sehingga diharapkan seorang Anggota Merpati Putih akan menyelaraskan hati dan pikiran dalam segala tindakannya. Selain itu PPS Betako Merpati Putih mempunyai motto: "Sumbangsihku tak berharga, namun Keikhlasanku nyata". Sejarah Merpati putih (MP) merupakan warisan budaya peninggalan nenek moyang Indonesia yang pada awalnya merupakan ilmu keluarga Keraton yang diwariskan secara turun menurun, yang pada akhirnya atas wasiat Sang Guru ilmu Merpati Putih diperkenankan dan disebarluaskan dengan maksud untuk ditumbuhkembangkan agar berguna bagi negara. Awalnya aliran ini dimiliki oleh Sampeyan Dalem Inkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro kemudian ke BPH Adiwidjojo (Grat I). Lalu setelah Grat ke tiga, R. Ay. Djojoredjoso ilmu yang diturunkan dipecah menurut spesialisasinya sendiri-sendiri, seni beladiri ini mempunyai dua saudara lainnya. yaitu bergelar Gagak Samudro dan Gagak Seto. Gagak Samudro diwariskan ilmu pengobatan, sedangkan Gagak Seto ilmu sastra. Dan untuk seni beladiri diturunkan kepada Gagak Handoko (Grat IV). Dari Gagak Handoko inilah akhirnya turun temurun ke Mas Saring lalu Mas Poeng dan Mas Budi menjadi PPS Betako Merpati Putih. Hingga kini, kedua saudara seperguruan lainnya tersebut tidak pernah diketahui keberadaan ilmunya dan masih tetap dicari hingga saat ini ditiap daerah di tanah air guna menyatukannya kembali. Pada awalnya ilmu beladiri Pencak Silat ini hanya khusus diajarkan kepada Komando Pasukan Khusus ditiap kesatuan ABRI dan Polisi serta Pasukan Pengawalan Kepresidenan (Paspampres). Didirikan pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, mempunyai kurang lebih 35 cabang dengan kolat (kelompok latihan) sebanyak 415 buah (menurut data tahun 1993) yang tersebar di seluruh Nusantara dan saat ini mempunyai anggota sebanyak satu juta orang lulusan serta yang masih aktif sekitar 100 ribu orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Sang Guru Merpati Putih adalah Bapak Saring Hadi Poernomo, sedangkan pendiri Perguruan dan Guru Besar sekaligus pewaris ilmu adalah Purwoto Hadi Purnomo (Mas Poeng) dan Budi Santoso Hadi Purnomo (Mas Budi) sebagai Guru Besar terakhir yaitu generasi ke sebelas (Grat XI). PPS Betako Merpati Putih berasal dari seni beladiri keraton. Termasuk diantaranya adalah Pangeran Diponegoro. Berikut Silsilah Turunan aliran PPS Betako Merpati Putih: BPH ADIWIDJOJO: Grat-I PH SINGOSARI: Grat-II R Ay DJOJOREDJOSO: Grat-III GAGAK HANDOKO: Grat-IV RM REKSO WIDJOJO: Grat-V R BONGSO DJOJO: Grat-VI DJO PREMONO: Grat-VII RM WONGSO DJOJO: Grat-VIII KROMO MENGGOLO: Grat-IX SARING HADI POERNOMO: Grat-X POERWOTO HADI POERNOMO dan BUDI SANTOSO HADI POERNOMO: Grat-XI Amanat Sang Guru, seorang Anggota Merpati putih haruslah mengemban amanat Sang Guru yaitu : Memiliki rasa jujur dan welas asih , Percaya pada diri sendiri , Keserasian dan keselarasan dalam penampilan sehari-hari , Menghayati dan mengamalkan sikap itu agar menimbulkan Ketaqwaan kepada Tuhan. Pada tahun 1995, seorang anggota PPS Betako Merpati Putih cabang Jakarta Selatan, Mas Eddie Pasar mendapat piagam penghargaan Rekor dari Musium Rekor Indonesia (MURI) karena mendemonstasikan menyetir mobil terjauh dari Bogor ke Jakarta dengan mata tertutup. Hingga tahun 1998 PPS Betako Merpati Putih masih hanya untuk Warga Negara Indonesia saja. Namun karena minat dari luar negeri sangat banyak dan antusias, MP mulai membuka diri untuk menerima anggota dari luar negeri. Adalah Nate Zeleznick dan Mike Zeleznick sebagai orang berkulit putih pertama yang diajarkan pencak silat ini pada tahun 1999 dan menjadi Guru Merpati Putih Pertama di Amerika. Pada awal bulan Oktober 2000 Mas Pung dan Mas Budi meresmikan American School of Merpati Putih yang pertama berlokasi di Ogden City Mall, Utah. MP adalah satu-satunya Pencak Silat yang diselidiki secara ilmiah mengenai masalah adanya tenaga dalam. Beladiri Tangan Kosong (Betako) Latihan Merpati Putih mementingkan aspek beladiri tanpa senjata/tangan kosong. Bagian-bagian tubuh manusia dapat digunakan sebagai senjata yang tak kalah ampuhnya dengan senjata sesungguhnya. Tetapi walaupun begitu pada anggota Merpati Putih secara ekstra kurikuler (bukan kurikulum latihan) diperkenalkan senjata, sifat dan karakteristik senjata, cara menghadapi dan sebagainya. Tujuan PPS Betako Merpati Putih adalah salah satu warisan ilmu beladiri karya nenek moyang Indonesia asli, dan bertujuan menempa kepribadian anggota-anggotanya agar berwatak dan berkepribadian kuat, harmonis, dinamis serta patriotis, sesuai filsafat Indonesia, yaitu Pancasila. Jurus dan Tenaga Dalam Merpati Putih menggunakan tenaga dalam asli manusia, dengan permainan napas. Pada orang biasa, tenaga asli tersebut dapat dilihat dan digunakan hanya pada saat orang bersangkutan dalam kondisi terdesak saja. Misal: melompat pagar saat anjing mengejarnya di jalan yang buntu. Dalam keadaan kembali normal / tidak terdesak, orang tersebut serasa tidak percaya telah melompati pagar yang tinggi tersebut. Maka di dalam Pencak Silat ini, bagaimana menggunakan tenaga ekstra asli manusia tersebut pada saat normal, kapanpun dan dimanapun. Secara normal sel dalam tubuh manusia menghasilkan zat yang bernama Adenosine Triphospate (A.T.P) yang merupakan cadangan energi dalam tubuh. Maka dengan bantuan teknik olah nafas, tenaga tersembunyi manusia itu dapat di latih untuk diperoleh dan dikumpulkan di dalam tubuh. Ada banyak Jurus (teknik olah) Pernapasan di dalam Pencak Silat ini diantaranya Pernapasan Pembinaan dan Pernapasan Pengolahan. Juga Ada beberapa Teknik Jurus diantaranya adalah Rangkaian Gerakan Terikat (RGT) dan Rangkaian Gerakan Bebas (RGB) Selain itu juga ada beberapa Teknik Langkah dan Gerak, diantaranya adalah Langkah Praktis dan Gerak Praktis. Selain dari Diri Sendiri (energi badan), pengambilan energi getaran di Pencak Silat Merpati Putih ini dapat pula diambil dari alam seperti dari Bumi (energi tanah juga pohon yang berusia amat tua), atau bahkan energi dari Angkasa (energi bintang, matahari ataupun bulan. Beberapa tahun belakangan, ilmu tenaga dalam Merpati Putih yang mengandung energi dan getaran ini telah diselidiki lebih jauh secara ilmu pengetahuan dan dikembangkan juga untuk pengobatan serta untuk kepentingan orang tuna netra, agar mereka bisa membaca, membedakan dan mengenali warna serta dapat mempermudah segala aktifitas lainnya sehari-hari. Tingkatan dan Latihan Ada dua belas tingkatan di dalam PPS Betako Merpati Putih ini. Tingkatan-tingkatan dalam PPS Betako Merpati Putih dimulai dengan: Tingkat Dasar I, tingkatan pertama masih berstatus calon anggota, walaupun telah berseragam baju atau kaos berwarna putih, celana hitam, kerah baju merah dengan label nama diri di dada namun sabuk masih putih polos. Tingkat Dasar II, tingkatan kedua dan seterusnya telah memakai seragam anggota tanpa nama diri dengan lambang IPSI dan lambang Merpati Putih di dada serta bersabuk merah polos. Tingkat Balik I, sabuk merah (tanpa strip) dengan lambang Merpati Putih di salah satu ujungnya. Tingkat Balik II, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip merah di salah satu ujungnya. Tingkat Kombinasi I, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip jingga di salah satu ujungnya. Tingkat Kombinasi II, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip kuning di salah satu ujungnya. Tingkat Khusus I (Khusus Tangan), sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip hijau di salah satu ujungnya. Tingkat Khusus II (Khusus Kaki), sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip biru di salah satu ujungnya. Tingkat Khusus III (Khusus Badan), sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip nila di salah satu ujungnya. Tingkat Penyegaran, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip ungu di salah satu ujungnya. Tingkat Inti I, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip putih di salah satu ujungnya. Tingkat Inti II, sabuk merah dengan lambang Merpati Putih dan berstrip putih dua buah di salah satu ujungnya. Para anggota berlatih paling tidak dua kali dalam seminggu di suatu Kelompok Latihan atau biasa disebut Kolat. Setiap kali latihan memakan waktu sekitar kurang-lebih dua jam. Pada tiap tahun, yaitu tepatnya setiap Tahun Baru 1 Suro atau 1 Muharam, seluruh anggota dari Sabang sampai Merauke diperbolehkan mengikuti dan berkumpul bersama-sama anggota lainnya di Yogyakarta, tepatnya di pantai Parang Kusumo untuk latihan bersama dari semua Tingkatan. Juga diadakan Napak Tilas di daerah Bukit Manoreh. Acara ini sudah merupakan tradisi di dalam perguruan pencak silat ini yang berguna untuk mengetahui dan dapat bertukar pikiran antar anggota satu dengan anggota lainnya.
SEJARAH PERISAI DIRI Pak Dirdjo (panggilan akrab RM Soebandiman Dirdjoatmodjo) lahir di Yogyakarta pada hari Selasa Legi tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Pakoe Alam. Beliau adalah putra pertama dari RM Pakoesoedirdjo, buyut dari Pakoe Alam II. Sejak berusia 9 tahun beliau telah dapat menguasai ilmu pencak silat yang ada di lingkungan keraton sehingga mendapat kepercayaan untuk melatih teman-temannya di lingkungan daerah Pakoe Alaman. Di samping pencak silat beliau juga belajar menari di Istana Pakoe Alam sehingga berteman dengan Saudara Wasi dan Bagong Kusudiardjo. Karena ingin meningkatkan kemampuan ilmu silatnya, pada tahun 1930 setamat HIK (Hollands Inlandsche Kweekchool) atau sekolah menengah pendidikan guru setingkat SMP, beliau meninggalkan Yogyakarta untuk merantau tanpa membawa bekal apapun dengan berjalan kaki. Tempat yang dikunjunginya pertama adalah Jombang, Jawa Timur. Di sana beliau belajar silat pada Bapak Hasan Basri, sedangkan pengetahuan agama diperoleh dari Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah menjalani gemblengan keras dengan lancar dan dirasa cukup, beliau kembali ke barat. Sampai di Solo beliau belajar pada Bapak Sayid Sahab. Beliau juga belajar kanuragan pada kakeknya, Jogosurasmo. Tujuan berikutnya adalah Semarang, di sini beliau belajar pada Bapak Soegito dari aliran Setia Saudara. Dilanjutkan dengan mempelajari ilmu kanuragan di Pondok Randu Gunting Semarang. Dari sana beliau menuju Cirebon setelah singgah terlebih dahulu di Kuningan. Di sini beliau belajar lagi ilmu silat dan kanuragan dengan tidak bosan-bosannya selalu menimba ilmu dari berbagai guru. Selain itu beliau juga belajar silat Minangkabau dan silat Aceh. Tekadnya untuk menggabungkan dan mengolah berbagai ilmu yang dipelajarinya membuat beliau tidak bosan-bosan menimba ilmu. Berpindah guru baginya berarti mempelajari hal yang baru dan menambah ilmu yang dirasakannya kurang. Beliau yakin, bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari niat yang baik, maka Tuhan akan menuntun untuk mencapai cita-citanya. Beliau pun mulai meramu ilmu silat sendiri. Pak Dirdjo lalu menetap di Parakan, Banyumas, dan pada tahun 1936 membuka perkumpulan pencak silat dengan nama Eka Kalbu. Setelah puas merantau, beliau kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Ki Hajar Dewantoro yang masih Pakde-nya, meminta Pak Dirdjo melatih di lingkungan Perguruan Taman Siswa di Wirogunan. Di tengah kesibukan melatih, beliau bertemu dengan seorang pendekar Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie (Shaolinshi), Yap Kie San namanya. Pak Dirdjo yang untuk menuntut suatu ilmu tidak memandang usia dan suku bangsa lalu mempelajari ilmu beladiri yang berasal dari biara Siauw Liem (Shaolin) ini dari Suhu Yap Kie San selama 14 tahun. Beliau diterima sebagai murid bukan dengan cara biasa tetapi melalui pertarungan persahabatan dengan murid Suhu Yap Kie San. Melihat bakat Pak Dirdjo, Suhu Yap Kie San tergerak hatinya untuk menerimanya sebagai murid. Berbagai cobaan dan gemblengan beliau jalani dengan tekun sampai akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari Suhu Yap Kie San. Dengan bekal yang diperoleh selama merantau dan digabung dengan ilmu beladiri Siauw Liem Sie yang diterima dari Suhu Yap Kie San, Pak Dirdjo mulai merumuskan ilmu yang telah dikuasainya itu. Pada tahun 1947 di Yogyakarta, Pak Dirdjo diangkat menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Seksi Urusan Pencak Silat yang dikepalai oleh Bapak Mochammad Djoemali. Dengan tekad mengembangkan ilmunya, beliau lalu membuka kursus silat umum, selain mengajar di HPPSI dan Himpunan Siswa Budaya. Tahun 1954 Pak Dirdjo diperbantukan ke Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. Tahun 1955 beliau resmi pindah dinas ke Kota Surabaya. Di sinilah, dengan dibantu oleh Bapak Imam Romelan, beliau membuka dan mendirikan kursus pencak silat Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI pada tanggal 2 Juli 1955. Pengalaman yang diperoleh selama merantau dan ilmu silat Siauw Liem Sie yang dikuasainya kemudian dicurahkannya dalam bentuk teknik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia, tanpa ada unsur memperkosa gerak. Semuanya berjalan secara alami dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Dari mulai didirikan hingga kini teknik silat Perisai Diri tidak pernah berubah, berkurang atau bertambah. Dengan motto Pandai Silat Tanpa Cedera, Perisai Diri diterima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri. Tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang menghadap Sang Pencipta. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Untuk menghargai jasanya, pada tahun 1986 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pendekar Purna Utama bagi Bapak RM Soebandiman Dirdjoatmodjo. TINGKATAN PESILAT PERISAI DIRI Tingkatan pesilat Perisai Diri dibagi dalam beberapa tingkatan yang secara garis besar dikelompokkan dalam tingkat Dasar dan tingkat Keluarga. Tingkat Dasar terdiri dari Dasar I (sabuk putih), Dasar II (sabuk hitam) dan Calon Keluarga (sabuk merah). Tingkat Keluarga (sabuk merah) terdiri dari beberapa tingkatan yang ditandai dengan warna strip pada badge. | Tingkat | Lama Pendidikan | Badge / Sabuk | | DASAR
| | Dasar I | 6 bulan | Sabuk Putih
| | Dasar II | | |
|